Serangan pasukan pro Muammar Qadhaf ke kilang minyak dan kota pelabuhan Marsa El Brega Libia Timur yang dikuasai pasukan oposisi memasuki hari kedua, Bersamaan itu, beberapa negara Arab menimbang suatu rencana perdamaian mengakhiri pergolakan berdarah yang oleh Washington disebut bakal menyeret negeri itu mirip Somalia.
Para saksi menuturkan, sebuah jet tempur mengebom bagian timur kota terminal minyak, Brega, sehari setelah para tentara yang loyalis Qadhafi menyerang darat dan udara ke kota itu. Cuma beberapa jam, gempuran dari pemberontak membuat kota dekat Ajdabiya itu kembali terlepas.
Para pemberontak yang kini bersenjata lengkap dan punya tank, Rabu lalu, meminta bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa--didukung serangan udara atas pasukan sewaan yang berperang membela Qadhafi dalam mempertahankan 41 tahun kekuasaannya.
Berkaitan dengan satu ancaman oleh Qadhafi bahwa intervensi asing bisa menyulut "Vietnam lain", para pejabat negara-negara Barat bersikap hati-hati terhadap apa pun keterlibatan militer asing, termasuk pemberlakuan zona larangan terbang di Libya. Toh, Amerika Serikat sudah menggerakkan kapal perang, termasuk satu kapal induk di Laut Mediterania, mendekati Libya.
Seorang perwira pasukan oposisi menyebutkan, tentara pemerintah telah dipukul mundur ke Ras Lanuf, lokasi terminal minyak utama lainnya yang berjarak 600 kilometer timur ibu kota Tripoli. "Pasukan Qadhafi berada di Ras Lanuf," ujar Mohammed al-Magrabi, tentara relawan oposisi, kepada Reuters. Di Ajdabiya, petugas pemakaman mengatakan jumlah korban tewas dalam dua hari pertempuran mencapai 14 orang lebih.
Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Moussa, di Kairo, Mesir, mengatakan sebuah rencana perdamaian dari Presiden Venezuela Hugo Chavez "tengah dipertimbangkan". Tapi dia tak memberikan detailnya. Chavez adalah teman Qadhafi.
"Kami telah diberi tahu tentang rencana Presiden Chavez, tapi masih dipertimbangkan," ujar Moussa kemarin kepada Reuters. "Kami berkonsultasi dengan beberapa pemimpin kemarin," kata Moussa, tanpa memberi tenggat untuk memutuskan rencana itu. Saat ditanyai, apakah Qadhafi telah menerima rencana itu, Moussa mengatakan, "Saya tidak tahu. Bagaimana saya tahu hal itu?" Lalu apakah dia sendiri menyetujui rencana Chavez, Moussa mengatakan, "Tidak."
Rencana itu akan melibatkan sebuah komisi penjaga perdamaian dari Amerika Latin, Eropa, serta Timur Tengah guna mencoba mencapai suatu hasil yang dinegosiasikan antara Qadhafi dan kekuatan pemberontak.
Sebelumnya, Al Jazeera melaporkan bahwa Qadhafi dan Moussa menyetujui proposal Chavez. Jaringan itu menyebutkan, Mustafa Abdel Jalil, pemimpin pemberontak, Dewan Nasional Libya, menolak sepenuhnya konsep perundingan dengan Qadhafi.
Dari Washington, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan salah satu perhatian terbesar Amerika Serikat adalah "Libya bisa terjungkal ke dalam kekacauan dan menjadi Somalia berikutnya."
tempointeraktif