6 Feb 2011

Perancis Akui Bantu Kepolisian Tunisia- Mesir Hadapi Pendemo

ImagePARIS–Perancis akui melatih personel kepolisian Mesir untuk kendalikan massa dan juga mengirimkan gas air mata ke Tunis. Menteri luar negeri Perancis juga pergi ke Tunisia setelah kerusuhan dengan menaiki jet milik seorang pria yang ada hubungan dengan mantanpresiden Ben Ali.


Saat para pejabat Perancis terus memperdebatkan kegagalan kebijakan luar negerinya di Afrika, mereka kembali diguncang oleh terungkapnya fakta baru mengenai bantuan yang diberikan kepada pasukan keamanan di Tunisia dan Mesir serta desakan agar menteri luar negeri segera mengundurkan diri terkait kunjungannya ke Tunisia pada saat keadaan kerusuhan di sana.


Perdana Menteri Perancis Francois Fillon pekan ini membenarkan bahwa pemerintah telah mengizinkan pengiriman granat gas air mata ke Tunis pada 12 Januari lalu, dua hari sebelum Presiden Tunisia Zine el Abidine ben Ali ditulingan dari kekuasaan.


Seiring kekacauan yang melada Mesir, terungkap bahwa pada bulan Oktober lalu Perancis melatih para personel kepolisian untuk mengendalikan massa.


Para pengunjuk rasa di Kairo menuding polisi – baik yang berseragam atau tidak – telah menyerang mereka. Sebuah halaman situs internet Kedutaan Perancis di Kairo membenarkan bahwa memang ada 20 orang personel yang melatih para polisi Mesir untuk "menenangkan keadaan."


"Entah metode pelatihan itu menyisakan banyak hal yang diinginkan atau ada yang jahat dalam buku panduan polisi Perancis," kata Radio France International.


Hal itu mengemukan saat Menteri Luar Negeri Perancis Michele Alliot-Marie kembali dihadapkan pada seruan pengunduran diri karena ia dianggap memiliki kaitan dengan Ben Ali dan para rekannya.


Menurut sebuah laporan berita, Alliot-Marie menaiki sebuah jet pribadi milik seorang pengusaha yang ada kaitannya dengan keluarga Ben Ali saat berlibur ke Tunisia setelah pecah kerusuhan.


Jean-Marc Ayrault, kepala deputi Sosialis dalam Majelis Nasional Perancis, majelis rendah parlemen, mengatakan, "Menteri Luar Negeri benar-benar tidak layak untuk mewakili Perancis. Ia tidak lagi punya tempat dalam pemerintahan dan harus mengundurkan diri."


Kemudian ia mengatakan kepada para wartawan, "Berlibur di Tunisia di tengah kerusuhan dalam kapasitas sebagai menteri adalah hal yang tak dapat dipercaya."


Gerard Longuet, pemimpin partai politik di Senat, majelis tinggi parlemen, menyatakan bahwa Alliot-Marie bisa saja menghabiskan liburannya di Perancis.


Juru bicara pemerintah Perancis, Francois Baroin memberikan dukungan kepada sang menteri. "Michele Alliot-Marie sudah menjelaskan, mengakui kesalahan, dan berjanji tak mengulanginya lagi," katanya dalam pertemuan para menteri.


Beberapa pekan lalu, Alliot-Marie dikritik karena menawarkan dukungan terhadap pemerintahan Ben Ali hanya berselang beberapa hari sebelum Ben Ali meninggalkan negara tersebut. Ia menyarankan pengiriman pasukan keamanan Perancis untuk membantu meredakan ketegangan.


Kini terungkap bahwa dalam liburannya, Alliot-Marie, 64, rekannya, Patrick Ollier, dan kedua orang tuanya menerima tawaran penerbangan dalam jet pribadi berpenumpang sembilan orang milik pengusaha Aziz Miled.


Surat kabar satir dan investigatif Perancis, Le Canard Enchaîné, yang membongkar kisah tersebut, menyebutkan bahwa Miled adalah "kawan lama" dari sang menteri dan juga orang dekat ipar laki-laki Ben Ali, Belhassen Trabelsi.


Kantor Alliot-Marie mengakui penerbangan dengan jet pribadi itu, namun membantah bahwa Miled adalah kawan Ben Ali. (dn/lt)


 


 


suaramedia