Washington-pada hari Jumat (4/2) lalu, Pemerintahan Obama membela Intelijennya menyusul tentang laporan, dan pernyataan dari Kongres AS, bahwa mereka telah gagal memperingatkan Presiden Barack Obama, yang sebelumnya memprediksi kerusuhan di Mesir.
Saat gejolak melanda Kairo, keluhan pertama terjadi dari perbedaan pendapat politik tentang krisis Mesir mulai muncul di Washington, dengan jejaring kompleks agen mata-mata AS sebagai target familiar.
Tapi Gedung Putih berusaha keras mengurangi tuduh-menuduh. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Tommy Vietor mengatakan komunitas intelijen AS sudah bertahun-tahun memperingatkan tentang ketidakstabilan di Timur Tengah.
"Presiden mengharapkan komunitas intelijen untuk menyediakan analisis kejadian yang relevan, tepat waktu, dan akurat ketika terjadi, dan itulah yang dilakukan selama krisis ini," ujar Vietor.
Pada hari Kamis (3/2), Stephanie O’Sullivan, yang dipilih oleh Obama untuk menjadi wakil direktur intelijen nasional, mengatakan dalam sidang kongres bahwa Obama diperingatkan akhir tahun lalu tentang potensi kerusuhan di Mesir.
Tapi Senator Dianne Feinstein, ketua Komite Terpilih Intelijen Senat, mengungkapkan keraguan tentang kemampuan CIA dan lainnya untuk segera menginformasikan presiden, menteri luar negeri, dan kongres tentang ancaman tersebut.
"Saya memiliki keraguan tentang apakah komunitas intelijen telah memenuhi kewajibannya di area itu," ujarnya.
Terdapat juga laporan media AS bahwa Obama mengatakan pada Direktur Intelijen Nasional James Clapper bahwa dia kecewa agen intelijen AS gagal memprediksi munculnya kerusuhan sosial yang menggulingkan pemerintahan di Tunisia.
Seorang pejabat juga mengatakan bahwa Obama diberi peringatan kecil sebelumnya tentang gejolak di Mesir.
Presiden telah menggelar rapat intelijen tentang krisis politik di Kairo, dan melakukan beberapa pertemuan dengan agen keamanan nasional, termasuk Clapper dan mata-mata top AS lainnya.
Sementara itu, seorang anggota unit Penyamaran Staf Jenderal Israel Sayeret Matkal ditahan di Mesir di tengah protes besar-besaran anti-pemerintah. Petinggi yang tak disebutkan namanya itu ditahan pada hari Kamis (3/2) ketika para pemrotes Mesir mempertahankan tekanan terhadap Presiden Hosni Mubarak untuk mundur.
Jutaan orang telah berkumpul di Lapangan Tahrir, yang menjadi titik pusat bagi demonstran, serta beberapa tempat lainnya selama 11 hari berturut-turut dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.
Pada hari Selasa (1/2), Mubarak mengumumkan lewat televisi bahwa dia tidak akan mencalonkan diri untuk periode jabatan keenam. Namun, dia menolak untuk melepaskan kekuasaan.
"Aku akan menggunakan sisa masa jabatanku di kantor untuk memenuhi kehendak rakyat," ujarnya. (rin/meo/pv)
suaramedia