27 May 2011

Inggris Akui Latih Pasukan Saudi Dalam Hadapi Pendemo Bahrain

ImageDengan dalih membantu keamanan di Manama dan menumpas aksi protes damai rakyat. Rezim Arab Saudi secara terang-terangan mengirim tentaranya ke negera Bahrain, kini giliran Inggris mulai terbongkar kedoknya. Ternyata misi yang diemban tentara Saudi ini mendapat restu dari London. Bahkan untuk menjalankan misi tersebut, tentara Saudi mendapat pelatihan khusus dari militer Inggris. Taktik dan strategi menumpas aksi demo didapat tentara Saudi dari Inggris.


Hal ini diakui sendiri oleh wakil menteri pertahanan Inggris. Ia mengakui bahwa militer negaranya melatih sejumlah kesatuan Angkatan Bersenjata Arab Saudi. Kesatuan tersebut adalah pasukan garda nasional yang saat ini ditempatkan di Bahrain. Ditambahkannya, Dephan Inggris memiliki kerjasama militer luas dengan Arab Saudi. Kerjasama itu mencakup pelatihan pasukan garda nasional.


Terbongkarnya dukungan dan pelatihan militer Inggris terhadap Arab Saudi bersamaan dengan kritik luas di London terkait aksi militer Riyadh di Manama. Para petinggi London juga memprediksikan pemindahan tawanan Bahrain ke Arab Saudi. Namun demikian, petinggi London mengaku belum mendapat laporan terkait hal ini.


Sementara itu, ulah Riyadh mengirim pasukannya ke Bahrain mendapat kecaman dan kritik luas dari berbagai negara dan publik dunia. Sejak dimulainya kebangkitan rakyat Bahrain menentang Dinasti al-Khalifa, ratusan rakyat tewas, cidera atau diculik pasukan Arab Saudi. Nasib mereka yang diculik hingga kini masih belum jelas.


Di sisi lain, sejumlah anggota majelis rendah Inggris melayangkan surat tuntutan penjatuhan embargo senjata kepada Arab Saudi dan Bahrain. Dalam suratnya, mereka mengecam kehadiran pasukan Saudi di Bahrain dan perusakan tempat-tempat ibadah di Manama.


Perdana Menteri Inggris David Cameron pekan lalu diberitakan melakukan pembicaraan dengan Shaikh Salman bin Hamad al-Khalifa, putra mahkota Bahrain di London. Koran Daily Telegraph terkait hal ini menulis, petinggi Inggris tidak pantas menggelar karpet merah bagi arsitek penyiksaan rakyat Bahrain.


Kate Allen, salah satu staf Badan Amnesti Internasional menandaskan, Cameron harus memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya dan meminta pemerintah Bahrain menghentikan aksi brutalnya membantai warga. Namun menurutnya, Cameron mengorbankan isu hak asasi manusia demi keuntungan perdagangan dan berbagai kontrak penjualan senjata.


Kini, pengakuan tersirat deputi menteri pertahanan Inggris terkait pelatihan militer Arab Saudi oleh London kian membuktikan wajah sejati Amerika Serikat dan negara Barat serta Arab yang tak segan-segan mendepak hak asasi manusia demi meraih keuntungan dan menjaga kepentingan. (irib)