Gereja Katolik Roma Inggris mengeluarkan panduan untuk mengubah para penyihir menjadi Kristen. Hal itu dilakukan untuk menanggapi kekhawatiran semakin banyaknya jumlah anak muda yang tertarik pada aliran Wicca, praktik ilmu gaib dan penyembahan berhala karena penggambaran para penyihir dalam tayangan hiburan, termasuk dalam film Harry Potter dan The Sorcerer’s Apprentice.
Buku panduan yang berjudul Wicca and Witchcraft: Understanding the Dangers tersebut memberikan saran kepada para orang tua mengenai langkah yang harus dilakukan jika anak-anak mereka menunjukkan ketertarikan pada dunia sihir.
Panduan itu juga memberikan instruksi mengenai "cara mengkristenkan seorang penyihir" jika para pembaca menjumpai orang semacam itu di antara kawan-kawan mereka atau di bar setempat.
Panduan yang diterbitkan oleh Catholic Truth Society tersebut ditulis oleh Elizabeth Dodd, seorang mantan penganut Wicca asal Oxford yang beralih menjadi pengikut Katolik.
Ia mengatakan nyaris 70 persen penganut Wicca adalah wanita muda yang mencari pemuas dahaga spiritual.
Di balik keglamoran yang ditawarkan, ada bahaya besar karena hal itu terhubung dengan ilmu gaib dan gerakan jahat yang diketuai pemuja setan Aleister Crowley, kata Dodd.
Ia menambahkan, "Mengakui bahwa para pengikut Wicca adalah orang-orang yang tengah melakukan pencarian spiritual bisa memberikan titik awal yang baik untuk dialog yang mungkin mempermudah mengubah keyakinan mereka."
Sekitar 7.000 dari 31.000 pengikut neo pagan menyebut diri penganut Wicca dalam sensus tahun 2001, namun angka sebenarnya diyakini jauh lebih besar.
Pada 2008 lalu, surat kabar Vatikan, L’Osservatore Romano menyebut karakter rekaan penulis J.K Rowling, Harry Potter, adalah contoh pahlawan yang keliru.
Dalam sebuah artikel yang ditandatangani oleh Edoardo Rialti, L’Osservatore menyebutkan bahwa ada banyak orang yang berusaha menarik persamaan antara karakter utama Rowling dengan mahakarya fantasi besar John Ronald Reuel Tolkien dan Clive Staples Lewis, para penulis Kristen dari cerita fiksi paling disukai di abad ke-20.
Rialti menyatakan, meski jika dilihat luarnya ada kesamaanantara Harry Potter dan pahlawan dalam cerita Tolkien dan Lewis, Rowling "menggambarkan dunia dan manusia dengan penuh kesalahan dan kesan yang berbahaya, bahkan lebih berbahaya karena dicampurkan dengan hal-hal yang setengah benar dan cara penceritaan yang dipaksakan."
Ia mengingat kembali esai yang pernah ditulis Tolkien mengenai fabel yang disebutnya bisa terpisah dari dunia fisik dan menciptakan jagat raya. Namun tidakbisa diciptakan kenyataan yang membalikkan struktur moral dan spiritual, sebuah dunia tempat kejahatan menjadi baik."
"Hal inilah yang terjadi dalam Harry Potter," tulis L’Osservatore. "Meski ada sejumlah nilai positif yang dapat dipetik dalam cerita itu, dasar cerita ini menjadikan ilmu sihir sebagai hal yang positif, manipulasi kasar dari benda-benda, dan orang-orang berterima kasih atas pengetahuan ilmu gaib. Orang-orang yang terpilih kemudian tahu cara mengendalikan kekuatan gelap dan menjadikannya baik."
"Ini adalah sebuah kebohongan besar yang mendalam, karena itu adalah godaan pengetahuan lama yang membuat rancu antara penyelamatan dan kebenaran dengan pengetahuan rahasia," tambah surat kabar itu.
L’Osservatore menambahkan, "Harry Potter merendahkan para ‘muggle’, manusia biasa yang tidak bisa ilmu sihir." (dn/dm/cna)
suaramedia.com