Menyusul keputusan rezim Zionis untuk mengurangi tingkat blokade atas Gaza, seorang pendukung mantan perdana menteri Israel, Ehud Olmert menyalahkan Menteri Pertahanan Israel, Ehud Barak, atas kebijakan "ketumbar dan pasta" Israel.
Barak dituding yang paling bertanggung jawab atas blokade ini karena dia yang bersikeras mencegah masuknya produk yang tidak memiliki resiko keamanan ke Gaza. Kantor Ehud Olmert hari ini (21/6) menyatakan bahwa para pejabat pemerintahan Olmert telah berulangkali berusaha meyakinkan Barak untuk menghapus barang-barang yang tidak mempunyai resiko keamanan bagi Israel untuk masuk ke Gaza.
Lalu mengapa Olmert yang saat itu menjabat sebagai PM tidak campur tangan? Kantor Olmert mereaksi pertanyaan itu dengan menyatakan bahwa Olmert saat itu berusaha menghindari munculnya keretakan dalam pemerintahannya.
"Ketika Anda mencegah masuknya pasta, akan sulit untuk menjelaskan bahwa pasta itu digunakan untuk membangun bunker. Sama sulitnya dengan menjelaskan resiko keamanan bagi Israel dari adanya ketumbar dan besi di dalam satu daftar produk yang dikirim ke Gaza," tambah kantor Olmert.
Sementara di lain pihak, Presiden Israel, Shimon Peres menyatakan, "Jika para pemimpin Gaza bersedia menghentikan teror, pembangunan tunel, penembakan roket, dan membebaskan Ghilad Shalit, maka blokade tidak diperlukan lagi."
Tidak seperti Gaza, Israel selama ini tidak pernah menghadapi serangan dari kawasan Tepi Barat yang dipimpin oleh Pemimpin Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas. Namun pada faktanya, perampasan rumah dan tanah milik warga Palestina, pembangunan tembok pemisah dan pos-pos pemeriksaan, bahkan blokade tetap dilakukan oleh rezim Zionis di kawasan itu. (irib)