Teheran, Senin - Iran melarang dua pengawas Badan Tenaga Atom Internasional untuk masuk ke negara itu. Tindakan tersebut dinilai sebagai balasan terhadap sanksi yang dijatuhkan Dewan Keamanan PBB atas Iran soal program nuklirnya.
Ketua Organisasi Energi Atom Iran Ali Akbar Salehi, seperti dikutip kantor berita Iran, ISNA, Senin (21/6), mengatakan, kedua pengawas itu dinyatakan persona non grata karena memberikan laporan tidak benar bagi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) tentang program nuklir Iran. Salehi tidak mengidentifikasi kedua pengawas dan tidak merinci soal elemen laporan yang dianggap tidak benar.
”Kedua pengawas itu tidak memiliki hak untuk datang ke Iran karena mereka membocorkan informasi sebelum diumumkan secara resmi dan mereka juga membuat laporan yang salah,” kata Salehi.
Iran telah meminta IAEA untuk mengganti kedua pengawas dengan pengawas yang baru. Salehi mengatakan, keputusan penolakan pengawas IAEA diambil untuk meyakinkan anggota parlemen Iran bahwa kerja sama dengan IAEA hanya dilakukan dalam kerangka kesepakatan perlindungan.
Dalam laporan terkini soal nuklir Iran pada Mei, IAEA mengeluhkan bahwa Teheran tetap melakukan aktivitas pengayaan uranium dan kini memproduksi uranium yang diperkaya pada level pemurnian lebih tinggi. Laporan setebal sembilan halaman itu juga menyebutkan bahwa Iran gagal menjawab pertanyaan soal kemungkinan dimensi militer atas program nuklirnya.
Dalam kunjungan pada Mei di Laboratorium Riset Multiguna Jaber ibn Hayan di Teheran, pengawas menemukan adanya sel elektrokimia yang telah ”dipindahkan” dari unit penelitian. Iran membantah bahwa sel elektrokimia itu hilang.
Lebih sulit
Hubungan Iran dan IAEA menjadi lebih sulit setelah Yukiya Amano menjadi pemimpin lembaga itu pada Desember 2009. Amano melakukan pendekatan lebih keras terhadap program nuklir Iran dibandingkan pendahulunya, Mohamed ElBaradei.
Theodore Karasik, Direktur Penelitian pada Institute for Near East and Gulf Military Analysis, mengatakan, tindakan Iran melarang dua pengawas IAEA masuk merupakan langkah pertama dari banyak tindakan balasan atas sanksi Dewan Keamanan (DK) PBB.
”Ini adalah bagian jenjang naik pada tindakan saling balas yang kini mulai terlihat,” kata Karasik.
Pada 9 Juni, DK PBB menjatuhkan sanksi keempat atas Iran. Langkah itu disusul dengan tindakan hukuman sepihak oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Di Vienna, Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim kemarin menyatakan masih berharap bahwa rencana agar Iran menukar sejumlah material nuklirnya bisa menjadi dasar bagi pembicaraan lebih jauh dengan Teheran soal program nuklir.
”Menurut pendapat saya, sanksi justru membuatnya semakin sulit, bukannya lebih mudah. Jika ada niat baik dan fleksibilitas, masih mungkin untuk menemukan kesepakatan,” kata Amorim.
Brasil dan Turki, keduanya anggota tidak tetap DK PBB, memilih tidak dalam pemungutan suara resolusi sanksi atas Iran. Kedua negara juga membantu menjembatani kesepakatan agar Iran mau mengirim 1.200 kilogram uranium yang diperkaya level rendah sebagai ganti bahan bakar reaktor nuklir.(ap/afp/reuters/fro)