17 Jun 2010

Blunder Baru London di Uni Eropa

ImagePerdana Menteri Inggris, David Cameron Kamis (17/6) untuk pertama kalinya menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa. Dalam perundingan yang berlangsung alot tersebut, Perdana Menteri dari kubu konservatif Inggris tampil menjadi politisi yang menentang keras pengokohan solidaritas Eropa.



Tidak hanya itu, Cameron juga menarik wakil partainya dari lingkaran kubu moderat di Parlemen Eropa. Sikap kontroversi Cameron ini mengemuka di saat partai dari kubu Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman, Angela Merkel mati-matian mendukung solidaritas Uni Eropa, dan pengokohan partai moderat di parlemen Eropa. Sikap negatif atas kinerja Cameron terhadap solidaritas Eropa, jelas bertentangan dengan sikapnya sebelum mengunjungi Brussel.


Cameron dalam makalah yang ditulisnya bersama dengan Perdana Menteri Swedia, Fredrik Reinfeldt yang dimuat di koran Financial Times menentang keras salah satu agenda utama KTT Uni Eropa, yaitu pengawasan terhadap kategorisasi anggaran negara-negara anggota Uni Eropa.


Dalam program ini, Komisi Eropa memiliki kekuatan lebih besar dalam menerapkan pengelolaan urusan finansial anggota Uni Eropa. Termasuk di dalamnya, komisi Eropa bisa mencabut hak pilih negara-negara di parlemen Eropa yang bermasalah dalam urusan defisit anggaran dan utang negara. Komisi ini merupakan standar Uni Eropa.


Cameron dalam tulisannya mendukung pengetatan kebijakan mekanisme finansial Uni Eropa. Namun, PM Inggris ini membatasi penerapan ketentuan ini hanya pada 16 negara anggota zona euro. Dengan demikian, Cameron menentang keras draf pemerintahnya sebelum mengerahkan parlemen Inggris yang diserahkan ke Komisi Eropa.


Sejatinya, Perdana Menteri Inggris mendukung mekanisme menghadapi krisis dan penerapan solusi mencegah ambruknya ekonomi negara-negara pengutang di Eropa. Namun negaranya tidak bersedia berperan aktif dan mengucurkan dana untuk menanggulangi masalah ini demi kepentingan Eropa.


Di saat masuknya Inggris ke zona euro diharapkan bisa mengokohkan nilai tukar tunggal di Eropa ini, London justru terang-terangan menyatakan tidak akan pernah bergabung dnegan zona euro.


Jika pesimisme Eropa terhadap kubu konservatif Inggris kian menguat, maka Cameron akan membentur masalah besar dalam mewujudkan komitmen pemilunya mengenai peran signifikan London dalam memimpin Uni Eropa.(irib)