Departemen Luar Negeri AS telah memberikan kontrak senilai lebih dari $120 juta kepada perusahaan yang dulunya bernama Blackwater Worldwide untuk menyediakan layanan keamanan di Afghanistan, demikian dilaporkan kantor berita CBS News.
Pasukan keamanan Blackwaer yang berbasis di Moyock, Carolina Utara, dan kini telah berganti nama menjadi Xe Services tersebut dianugerahi kontrak, demikian kata seorang juru bicara wanita Departemen Luar Negeri AS.
Berdasarkan kontrak tersebut, Pusat Pelatihan AS akan memberikan "layanan perlindungan keamanan" di konsulat baru AS di Heart dan Mazar-e-Sharif, Afghanistan, kata juru bicara wanita tersebut.
Perusahaan itu bisa mulai bekerja "segera" dan harus segera mulai dalam waktu dua bulan. Kontrak itu sendiri berlaku satu tahun, namun bisa diperpankang dua kali, masing-masing tiga bulan dan mencapai panjang kontrak maksimum 18 bulan.
Jika masa tugas tersebut betul-betul mencapai 18 bulan, maka (Blackwater) akan mendapat bayaran total $120.123.293, kata juru bicara tersebut.
Pemberian kontrak tersebut terjadi selang empat bulan lebih sejak pemerintah Irak mengusir ratusan penjaga keamanan Blackwater dari negara tersebut dalam waktu tujuh hari jika tidak ingin ditangkap.
Departemen Kehakiman AS juga berusaha memproses kasus terhadap lima pengawal Blackwater yang memberondong tembakan ke arah kerumunan massa di jalanan kota Baghdad pada 2007.
Desember lalu, seorang hakim federal menggugurkan kasus pemerintah AS melawan para pengawal tersebut dalam kasus pembantaian warga sipil Irak tak bersenjata karena para jaksa menggunakan pernyataan tersumpah yang diberikan para pengawal di bawah janji kekebalan. Para jaksa federal terus mengupayakan banding atas putusan tersebut.
Kasus Departemen Kehakiman mengenai pengusiran Blackwater dari Irak tidak menghentikan Pusat Pelatihan AS menawarkan kontak jutaan dolar tersebut, kata juru bicara wanita Departemen Luar Negeri AS.
Berdasarkan regulasi akuisisi federal, pemrosesan individu-individu tertentu dalam Blackwater tidak menghalangi perusahaan itu atau penerusnya mengajukan diri dalam kontrak," katanya.
"Berdasarkan asas persaingan penuh dan terbuka, departemen melakukan evaluasi teknis menyeluruh terhadap semua proposal yang masuk dan menentukan bahwa Pusat Pelatihan AS memiliki kemampuan dan kualifikasi terbaik untuk memenuhi persyaratan dalam kontrak.
Dua perusahaan lain mengajukan diri untuk kontrak tersebut, tambahnya. Namun, ia tidak bisa menyebutkan nama kompetitor yang mengajukan penawaran pada Jumat malam.
Perusahaan kontraktor keamanan bayaran Blackwater dan pemiliknya, Erik Prince, kembali menjadi bahan pemberitaan.
Jajaran atas perusahaan Blackwater saat ini menghadapi tuntutan federal. Namun, sang pemilik berencana pindah ke tempat yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat.
Prince agaknya berusaha menghindari hukum dengan beralih ke negara Islam, Uni Emirat Arab.
April tahun ini, pengadilan mendakwa lima personel top Prince. Mereka didakwa dengan tuduhan kepemilikan senjata, konspirasi, dan menghalangi keadilan.
Pemilik Blackwater tersebut mengejutkan orang-orang dengan mengumumkan penjualan perusahaannya minggu lalu.
Meski Prince sendiri tidak terkena tuntutan, merebak kabar bahwa dia akan pindah ke negara yang jauh. Mark Corallo, juru bicara sekaligus penasihat Prince dan Blackwater menolak membenarkan rumor tersebut. Ia mengatakan bahwa kliennya adalah individu dan ia tidak bisa memublikasikan rencana milik kliennya.
Kabar mengenai kepindahan Erik Prince setelah menjual perusahaannya dimunculkan oleh The Nation yang telah memeriksa ulang validitas informasi dengan tiga sumber berbeda. The Nation juga melaporkan bahwa tidak ada petinggi Blackwater yang membocorkan informasi mengenai Prince sejauh ini.
Pakar hukum Scott Horton menekankan kembali fakta mengenai sulitnya memproses sebuah kasus melawan Prince jika ia tinggal di luar negeri, khususnya di negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan AS. (suaramedia)