Tens of thousands of anti-government protesters have taken to the streets in Bahrain to demand freedom and democracy in the country.
Shouting anti-government slogans, demonstrators on Friday called for the down fall of Al Khalifa dynasty, which has ruled Bahrain for more than four decades.
The rally was organized by the country's main opposition group, al-Wefaq.
The protesters also called on the international community to stand by the Bahraini people.
The massive rally came one day after hundreds of Bahraini women staged a protest rally in the village of Maqsha to condemn the imprisonment of female doctors, teachers and other demonstrators jailed for taking part in anti-regime protests earlier this year.
On Thursday, a military court in Bahrain sentenced 20 medics, who treated anti-government protesters, to up to 15 years in prison each, after convicting them of conspiracy to overthrow the regime.
In a separate case, the special security court sentenced a protester to death over the alleged killing of a policeman.
One day earlier, the same court had upheld the life sentences handed to eight opposition leaders convicted of having vital roles in the anti-government protests in the country. It also upheld sentences of up to 15 years on 13 other activists.
Thirty-two others were handed 15 years behind bars earlier this week for taking part in anti-regime protests.
The harsh sentences handed to dissidents have drawn international criticism. The United Nations human rights office said on Friday that the trials failed to meet international standards of transparency as the accused had been allowed limited access to lawyers.
"For such harsh sentences to be handed down to civilians in a military court with serious due process irregularities raises severe concerns," said Rupert Colville, spokesman for the UN High Commissioner for Human Rights.
"We even hear of people calling their families a day before the hearing to appoint a lawyer," said Colville.
The rights body also criticized Manama for refusing to investigate reports of torture and prohibited recorded proceedings.
The World Medical Association has also condemned as "totally unacceptable" the jail terms imposed by a military court, while the World Health Organization said medical personnel should never be punished for doing their duty and treating all patients.(presstv)
Menara kembar pencakar langit World Trade Centre (WTC) di New York, yang dihantam dua pesawat pada 11 September 2001, tidak runtuh akibat kebakaran, tetapi akibat melelehnya aluminium dua pesawat tersebut. Demikian laporan harian Belanda, Spits, yang terbit dengan "Teori Baru Mengenai 9/11", sebagaimana dikutip Radio Nederland, Kamis (22/9/2011).
Keruntuhan disebabkan oleh kombinasi melelehnya dinding aluminium akibat suhu panas yang luar biasa ditambah semburan air dari alat-alat pemadam kebakaran otomatis di setiap ruangan. Itulah yang menyebabkan ledakan yang menghancurkan konstruksi bangunan.
Laporan harian itu berdasarkan hasil penelitian Christian Simensen, seorang ilmuwan Norwegia, yang disampaikan dalam sebuah kongres teknologi di San Diego, Amerika Serikat. Simensen bekerja di sebuah lembaga penelitian Norwegia, Sintef.
Simensen mengambil contoh percobaan yang dilakukan oleh pabrik aluminium Alcoa beberapa tahun lalu. Para ilmuwan mencampur 20 kilogram aluminium yang meleleh dengan 20 liter air. Serta merta, timbul ledakan dahsyat yang menghancurkan ruangan laboratorium dan membuat lubang selebar 30 meter. Kandungan aluminium kedua pesawat yang menghantam kedua gedung World Trade Centre New York mencapai 30 ton.
Teori Simensen cocok dengan keterangan saksi mata yang mendengar ledakan dahsyat saat kedua gedung pencakar langit World Trade Centre runtuh. Ledakan hebat tersebut sampai menimbulkan tuduhan bahwa kedua gedung itu sengaja diledakkan oleh aparat keamanan Amerika.
Menurut Spits, selama sepuluh tahun, Pemerintah Amerika Serikat melakukan berbagai penelitian mengenai penyebab runtuhnya kedua gedung pencakar langit itu.
In an interview with CNN on Sunday, Erdogan noted that Israel is the only player in the Middle East that has nuclear weapons and asked, “Why is it that countries banning Iran from having nuclear weapons don't also ban Israel from having nuclear weapons?”
Turkey downgraded ties with Israel after Tel Aviv refused to apologize for its attack on the Gaza Freedom Flotilla, which left nine Turkish citizens dead on May 31, 2010.
Earlier in September, the Turkish Economy Minister said Ankara would continue its “normal” economic ties with Tel Aviv. From January 2011 to July 2011, trade between Turkey and Israel reached $2.3 billion.
Erdogan also commented on Turkey's decision to host one component of a missile shield system, calling it a “NATO concept.”
He advised against “different interpretations” of Turkey's decision and urged everyone to look at “what is actually the reality” in the issue.
But Turkey's move was still censured in some circles, with Iran describing it as “a cause for concern” and “questionable.” Russia criticized Turkey for collaborating with NATO.
Turkey could earn as much as $4 billion from the missile shield system. It has been reported that a Turkish defense company is holding negotiations on a $2 billion contract in connection with the project.(presstv)
Sekalipun PBB memberi keanggotaan penuh kepada Palestina, pemukim Yahudi di Tepi Barat mengatakan siap mencegah negara Palestina jadi kenyataan di lapangan.
Shaul Goldstein, pemimpin Dewan regional bagi kelompok permukiman Gush Etzion di bagian selatan Tepi Barat Sungai Jordan, mengatakan para pemukim siap membantu melindungi sendiri tanah mereka, ketimbang hanya mengandalkan militer.
"Kita harus tetap berjaga dan tahu cara mempertahankan diri kita jika perlu," kata Goldstein, anggota partai Likud, pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
"Kita harus menuntut hak kita di tanah ini dan berhenti memikirkan berdirinya negara Palestina, sehingga kita dapat memusatkan perhatian pada cara hidup sebagai tetangga yang baik dengan orang Palestina," tambahnya.
Palestina akan secara resmi mengajukan permintaan keanggotaan penuh PBB kepada Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon pada 20 September, ketika para pemimpin dunia memulai pertemuan di New York dalam Sidang Ke-66 Majelis Umum PBB.
Media Israel telah melaporkan militer telah melatih tim keamanan pemukim Yahudi untuk menghadapi setiap gelombang kerusuhan Palestina yang mungkin menyusul pengesahan PBB untuk keanggotaan Palestina itu.
Ketegangan meningkat awal September, setelah tentara Israel menghancurkan tiga rumah di permukiman terdepan Migron, dekat Ramallah.
Beberapa jam kemudian, masjid di desa Qusra, di sebelah tenggara Nablus, dirusak ketika dua ban dibakar di tempat penyimpanan barang di lantai dasar, kata warga. Mereka menuduh pemukim Yahudi sebagai pelaku semua tindakan tersebut.(*)antara
Teror 9-11 sudah berlalu 10 tahun. Tetapi selubung misteri masih melingkupi. Pemerintah AS memang telah merilis laporan resmi komisi penyelidikan 9-11. Sebenarnya, sebelum penyelidikan tuntas pun, Bush sudah langsung menyatakan bahwa Al Qaida adalah pelaku terori 9-11 dan menyerukan "perang melawan terorisme" dengan menggunakan kata ‘crusade' (perang Salib). Bush mengatakan, "this crusade, this war on terrorism is going to take a while."
Namun, hasil penyelidikan resmi itu sama sekali tidak mampu menjawab berbagai pertanyaan ‘sederhana' terkait keanehan kejadian 9-11.
Pertanyaan-pertanyaan ‘sederhana' itu, antara lain: bagaimana seorang pilot amatiran yang konon baru lulus pelatihan pilot, bisa menabrak Menara Kembar WTC secara tepat? Bila kita memandang kota dari tempat yang sangat tinggi, pemandangan yang terlihat adalah datar bagaikan seperti selembar peta. Menurut Thierry Mayssan, penulis buku 9/11: The Big Lie, untuk menabrak menara WTC, pesawat perlu terbang sangat rendah dan kemampuan terbang serendah itu sangat sulit dilakukan oleh pilot yang sangat berpengalaman sekalipun.
Kedua, tak lama setelah ditabrak, Menara Kembar yang sangat kokoh itu runtuh dengan ‘rapi' (seperti sedang mengalami demolition atau peruntuhan gedung tua dengan memasang bom pada tempat-tempat yang sudah diperhitungkan secara cermat). Bahkan berbagai dokumentasi foto/video memperlihatkan potongan besi baja yang ‘rapi' (terpotong menyerong, khas demolition). Namun, laporan komisi penyelidikan menyatakan bahwa terbakarnya bahan bakar pesawat menimbulkan panas yang melelehkan struktur logam utama kedua bangunan.
Teori ini disangkal keras oleh William Manning, editor majalah profesional "Fire Engineering". Menurutnya, "Kerusakan bangunan akibat ditabrak pesawat dan ledakan dari bahan bakar pesawat tersebut tidak cukup untuk meruntuhkan menara WTC." Manning juga memertanyakan, mengapa besi-besi reruntuhan WTC segera dijual ke China, padahal penelitian belum tuntas? Padahal, lazimnya dalam peristiwa-peristiwa kebakaran atau ledakan, semua barang di lokasi kejadian tidak boleh dipindahkan hingga penelitian tuntas.
Namun sebelum membahas lebih lanjut tentang bagaimana proses hancurnya WTC, perlu dicari tahu dulu, siapa sebenarnya yang menguasai gedung WTC yang hancur itu?
Jurnalis independen Christopher Bollyn, memberikan jawabannya. Ada dua nama yang menguasai WTC, yaitu Larry Silverstein dan Lewis Eisenberg. Silverstein dan partnernya, Frank Lowy (pria Australia-Israel) adalah developer real estat. Mereka memiliki hak sewa selama 99 tahun atas WTC. Sementara itu, Eisenberg berperan dalam melakukan privatisasi properti WTC dan mengatur negosiasi yang akhirnya memberikan hak sewa kepada properti itu kepada Silverstein dan Lowy. Ketika WTC hancur, Silverstein dan Lowy meraup milyaran dollar uang dari perusahaan asuransi.
Silverstein dan Lowy meraih hak sewa atas WTC tak lama sebelum terjadinya teror 9-11, tepatnya tanggal 26 Juli 2001. Silverstein menguasai the 10.6 juta-kaki persegi ruang perkantoran di kompleks WTC, dan Lowy menguasai 427.000 juta-kaki persegi mall di kompleks WTC.
Silverstein dan Eisenberg dikenal sebagai pendukung utama Israel, dan punya jabatan tinggi di lembaga pencarian dana untuk Israel di AS. Keduanya sama-sama memiliki jabatan tinggi di the United Jewish Appeal (UJA), sebuah organisasi ‘amal' Zionis yang sangat kaya. Silverstein sendiri pernah menjabat sebagai ketua United Jewish Appeal-Federation of Jewish Philanthropies of New York, Inc. Ini adalah organisasi yang mengumpulkan dana ratusan juta dollars setiap tahun untuk disalurkan kepada lembaga-lembaga Zionis di AS dan Israel.
Eisenberg memainkan peranan penting dalam proses jatuhnya hak sewa WTC kepada Silverstein dan Lowy. Padahal, keduanya sebenarnya bukanlah pemenang dari proses lelang gedung itu . Pemberi tawaran tertinggi sebenarnya adalah Vornado Realty Trust, tapi dengan berbagai cara, Eisenberg menjegalnya, sehingga Vornado muncur, dan membuka pintu bagi Silverstein dan Lowy.
Yang agak luput dari pembicaraan terkait 9-11 adalah runtuhnya gedung WTC 7 (gedung lain di sekitar Menara Kembar WTC), pada sore hari 9 September 2001 itu. Tidak ada pesawat yang menabrak gedung setinggi 47 lantai itu, namun tetap runtuh. Siapa pemiliknya? Tak lain tak bukan, Silverstein. Lagi-lagi, ditemukan bukti-bukti bahwa bom-lah penyebab runtuhnya WTC 7.
Kembali pada teori runtuhnya WTC, secara umum ada dua teori. Teori resmi dari pemerintah AS adalah menara kembar itu runtuh karena bahan bakar pesawat yang terbakar menimbulkan panas yang melelehkan struktur logam utama kedua bangunan. Sebaliknya, para peneliti independen mengatakan bahwa tidak mungkin ‘hanya' ditabrak pesawat, gedung setangguh WTC bisa hancur total (seharusnya, hanya kerusakan di beberapa lantai saja, yang dekat dengan titik tabrakan). Selain itu, di lokasi juga ditemukan bukti-bukti (antara lain, video dan foto-foto yang menunjukkan adanya 5-6 kawah bekas ledakan yang luas dan dalam) mengarahkan pada simpulan bahwa ada ledakan bom berkekuatan sangat besar yang sebelumnya sudah ditanam di dalam gedung.
Bila teori kedua ini yang dianggap lebih masuk akal, logikanya, perlu sepasukan penuh orang untuk membawa berton-ton bom ke dalam gedung WTC dan meletakkannya secara cermat, supaya bisa meruntuhkan gedung raksasa itu dengan ‘rapi'. Tak mungkin aksi penanaman bom ini dilakukan dengan diam-diam tanpa ketahuan pemilik gedung. Tentu pertanyaan selanjutnya adalah "siapa yang memiliki akses penuh terhadap WTC sebelum terjadinya 9-11?"
Lagi-lagi, jawabannya adalah Silversten. Dialah yang menguasai hak sewa selama 99 tahun atas WTC sejak 26 Juli 2001. (ir/kons)
Bacaan lanjutan: file PDF hasil penelitian (Prof. Em) Dr. Steven E. Jones (ahli fisika) berjudul "Why Indeed Did the WTC Buildings Collapse?" bisa diunduh di sini: http://wtc7.net/articles/WhyIndeed09.pdf
Fuad Ibrahim, pengamat Arab Saudi dalam wawancaranya dengan al-Alam memperingatkan rencana keji Riyadh menghancurkan peninggalan Islam di kota suci negara ini. "Dengan berkedok memperluas tempat-tempat suci, pemerintah Arab Saudi berencana menghancurkan seluruh peninggalan Islam di kota Mekkah dan Madinah," ungkap Fuad.
Ia mengkritik kebungkaman negara Arab dan Islam yang menyaksikan kehancuran peninggalan Islam di Arab Saudi. Ditambahkannya, tidak adanya undang-undang yang mencegah aksi Riyadh dan bungkamnya rakyat Arab serta muslim dunia bahkan masyarakat internasional membuat keluarga Saud kian berani menghancurkan peninggalan Islam.
Fuad Ibrahim dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya peninjauan ulang peran keluarga Saud sebagap pengawas dan pengelola tempat-tempat suci Islam di Arab Saudi. "Kini pun beredar isu penghancuran Masjidil Haram oleh pejabat Saudi dalam koridor program perluasan kota,"ungkap Fuad. Bahkan ia juga memperingatkan adanya rencana pemindahan makam Rasulullah Saw dari Masjid Nabwai dan penghancuran Kubah Hijau yang digelontorkan Bin Atsimain, seorang ulama Wahabi.
Sheikh Abdul Naser al-Jabari, dekan Universitas Dakwah Lebanon saat diwawancarai al-Alam mengatakan, rencana perluasan Haramain akan memusnahkan warisan Islam di kota Madinah dan Mekkah. (IRIB/al-Alam/MF)
Para demonstran Mesir menyerang kedutaan besar Arab Saudi di Kairo. Setelah berhasil menduduki kedutaaan besar Zionis Israel, para pendemo, Jumat malam (9/9/2011) juga mendekati kedubes Arab Saudi dan menyerangnya.
Situs Pemberitaan Al Fajr melaporkan, kedutaan besar Arab Saudi menjadi target selanjutnya setelah kedutaan besar Zionis Israel. Sumber itu menyebutkan, para demonstran langsung menyerang kedutaan besar Arab Saudi setelah berhasil menduduki keduataan besar Zionis Israel. Bahkan menurut laporan tersebut, para pendemo sempat memasuki wilayah kedutaan Arab Saudi, namun tidak melakukan pengrusakan. Para pendemo langsung keluar dari kedutaan Arab Saudi dan melanjutkan aksi demo mereka.
Jumat malam, para pendemo di Mesir kembali menyerbu kedutaan besar Israel di Kairo dan menghancurkan bagian dari tembok barikade di sekitar gedung. Bahkan para demonstran berhasil membobol gedung kedutaan, meski dijaga ketat pasukan keamanan. Dalam aksi penyerbuan tersebut dilaporkan seorang demonstran tewas. (ir/ Fn/AR/PH)
Jika ada pihak yang beruntung terhadap gerakan revolusi di negara-negara arab, pihak tersebut adalah inggris. Negara ini meningkatkan ekspor senjatanya hingga 30 persen ke Timur Tengah dan negara-negara di Afrika Utara, yang menjadi pusat gerakan protes anti rezim totaliter di kawasan itu.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Inggris telah mengekspor senjata senilai 30,5 juta pound ke berbagai negara termasuk Bahrain dan Arab Saudi antara bulan Februari dan Juni tahun ini. Jika dibandingkan dengan tahun 2010 pada periode yang sama, angka tersebut mengalami peningkatan 30 persen dari 22 juta pound.
Berdasarkan laporan yang diturunkan oleh koran The Times, ekspor senjata ke berbagai negara yang memiliki catatan HAM mengkhawatirkan itu, meningkat sepertiga pada saat yang sama ketika para penguasa di negara-negara tersebut merepresi rakyatnya.
Ekspor senjata itu meliputi berbagai jenis senjata yang digunakan dalam proses represi dalam negeri seperti amunisi kaliber kecil dan senapan otomatis.
Peningkatan itu terjadi di saat Kementerian Luar Negeri Inggris pada bulan Februari lalu berjanji akan merevisi dengan cepat seluruh ekspor senjata ke kawasan yang bergolak.
Sebelum Dewan Keamanan PBB memberlakukan embargo suplai senjata ke Libya pada Februari, Inggris telah menyuplai amunisi kepada rezim Libya senilai 64,000 pound.
Di sisi lain, ekspor senjata buatan Inggris terus mengalir ke Jerman, Bahrain, dan Mesir, pada masa protes rakyat sejak Februari hingga April. Rezim Bahrain menerima paket senjata dari Inggris pada bulan April, beberapa pekan setelah pasukan Manama secara brutal menindak para demonstran pro-demokrasi di Bundaran Mutiara.
Hasil penelitian itu juga menyebutkan, standar ganda pemerintah Inggris tidak dapat dipungkiri menyusul kecaman keras London atas represi rezim al-Khalifa terhadap para demonstran pro-demokrasi, namun pada saat yang sama Inggris juga menjual senjata kepada rezim Bahrain. Senjata tersebut digunakan untuk memberantas protes rakyat.
Sulit dibayangkan bahwa para pejabat Inggris tidak mengetahui penjualan senjata-senjata ke Timur Tengah dan Afrika Utara, mengingat hak penjualan senjata di Inggris berada dalam pengawasan ketat pemerintah.
Undang-undang Inggris tidak mengijinkan penjualan senjata yang digunakan untuk represi dalam negeri, penyerangan ke negara lain, begitu juga jika penjualan senjata itu akan semakin memanaskan konflik bersenjata.
Di lain pihak, kelompok perdamaian terbesar Inggris, Stop the War Coalition (STWC) dalam laporannya menyebutkan bahwa Inggris merupakan salah satu penjual senjata terbesar kepada rezim-rezim penindas dan korup.
STWC menambahkan, "Inggris merupakan salah satu penjual senjata terbesar di dunia dengan catatan sejarah panjang dalam mempersenjatai rezim-rezim seperti Bahrain, Libya, dan Arab Saudi."
Menurut lembaga perdamaian itu, dari 26 negara yang menurut Inggris memiliki rapor HAM yang mengkhawatirkan, London menjual senjatanya ke 16 negara di antaranya." (IRIB/MZ/AR)
Sebagian sumber-sumber pemberitaan mengungkap adanya konspirasi para pejabat Arab Saudi dan Qatar untuk menggagalkan atau setidaknya menyimpangkan revolusi rakyat Mesir. Menurut sumber-sumber ini, Bandar bin Sultan, Penasihat Keamanan Nasional Arab Saudi dan Perdana Menteri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassem Al Thani termasuk dari tokoh-tokoh Arab yang merancang diciptakannya fitnah dan kerusuhan di dalam negeri Mesir. Media-media pemberitaan mengungkap bahwa pejabat senior Qatar dan Arab Saudi tersebut baru-baru ini bertemu dengan sebuah tim dari Amerika yang terdiri dari empat orang di Doha, ibukota Qatar untuk membicarakan pentingnya menciptakan instabilitas di Mesir.
Berdasarkan laporan ini, opsi lain yang akan diterapkan di Mesir adalah dihentikannya penanaman modal di Mesir dan mendukung dana kelompok-kelompok penentang revolusi di negara ini. Guna menyukseskan rencana ini, Arab Saudi menyanggupi akan menggelontorkan bantuan sebesar 5 miliar dolar kepada mereka yang menentang revolusi Mesir.
Muhammad ad-Darini, Ketua Dewan Tinggi Ahlul Bait Mesir mengatakan, "Pasca kegagalan Arab Saudi menahan lengsernya Hosni Mubarak, diktator Mesir dan mencegahnya diadili, negara Petro Dolar ini telah mengalokasikan dana sebesar 5 miliar dolar untuk memusnahkan Revolusi 25 Januari rakyat Mesir." Ad-Darini menyinggung sejumlah CD yang dibagikan di bandara-bandara Arab Saudi yang isinya bertujuan menciptakan konflik etnis dan mazhab di Mesir mengatakan, "Isi CD itu menayangkan ceramah seorang ulama Arab Saudi yang memprovokasi orang guna menciptakan instabilitas di Mesir dan itu artinya mencampuri urusan dalam negeri Mesir."
Saat ini, kebijakan sebagian negara-negara Arab adalah berupaya sebisa mungkin mengurangi peran penting Mesir dalam peristiwa-peristiwa di Timur Tengah. Karena semua meyakini Mesir baru sangat berbeda jauh dengan Mesir di bawah pemerintahan Hosni Mubarak, agen perundingan damai, partner rezim Zionis Israel dan sekutu Amerika di kawasan. Melihat kenyataan ini, sebagian sekutu AS di Timur Tengah secara terang-terangan menyatakan penentangan dengan revolusi rakyat Mesir. Ketakutan negara-negara Arab di selatan Teluk Persia, begitu juga Arab Saudi atas munculnya kondisi yang terjadi di Mesir di negara mereka. Untuk itu mereka berusaha menciptakan kekacauan di Mesir yang pada akhirnya revolusi yang dibangun rakyat negara ini menjadi gagal.
Sekaitan dengan usaha ini, kita tidak boleh melupakan peran Amerika yang dari hari ke hari semakin menekan Dewan Tinggi Militer Mesir agar segera membebaskan Ilan Goren, agen Zionis Israel. Goren adalah agen Israel berkebangsaan Amerika yang ditangkap militer Mesir dengan tuduhan berupaya menciptakan instabilitas di negara ini di tengah-tengah memuncaknya demonstrasi di Mesir. Sebagian sumber-sumber pemberitaan menyebutkan, Amerika memprovokasi Arab Saudi dan Qatar menciptakan kerusuhan di Mesir guna menekan pemerintahan sementara Mesir.
Satu dari tuntutan rakyat Mesir adalah peninjauan kembali perjanjian damai Kairo-Tel Aviv yang dikenal dengan Camp David. Tuntutan ini jelas-jelas bertentangan dengan cara pandang sebagian negara Arab yang memiliki hubungan terselubung dengan para pejabat Israel. Oleh karena itu, negara-negara Arab ini berusaha sejalan dengan kebijakan Amerika dan Israel. Namun ada satu poin penting bahwa rakyat Mesir dengan kewaspadaan akan melakukan perlawanan terhadap setiap aksi yang ingin mengancam revolusi yang telah mereka bangun. Dengan melakukan demonstrasi secara berkesinambungan, mereka menuntut pemerintahan sementara Mesir mencegah campur tangan pihak-pihak asing dalam urusan dalam negeri mereka. (IR/SL/NA)
"Amerika Serikat bersama rakyat Libya dan akan tetap mengiringi perjalanan mereka menuju demokrasi hakiki."
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton, Kamis (1/9) akan terbang ke Paris untuk mengikuti sidang "kelompok kontak" membahas masalah Libya di tingkat pejabat tinggi negara-negara anggota.
Kelompok kontak itu mencakup sejumlah negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dalam beberapa bulan terakhir terlibat operasi militer di Libya.
IRNA melaporkan, Barat berupaya menguasai Libya setelah lengsernya diktator Libya, Muammar Gaddafi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Victoria Nuland mengatakan, "Sidang Paris bertujuan mengkoordinasi kebijakan dalam memberikan dukungan finansial dan politik Dewan Transisi Nasional Libya, dan pokok pembahasannya berkaitan dengan hasil-hasil sidang sebelumnya yang digelar Kamis pekan lalu diIstanbul, Turki."
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan, "Transisi negara Libya menuju sistem demokrasi, adalah tanggung jawab pemimpin mendatang negara itu dan tentunya dengan koordinasi Dewan Transisi Nasional dengan masyarakat internasional.
Tanpa menyinggung bahwa sebelum gerakan revolusi rakyat Libya, para pemimpin Amerika merupakan pendukung rezim Gaddafi dan bahwa hingga saat ini, Washington tidak bersedia mencairkan milyaran dolar aset Libya kepada pemerintahan transisi, Nuland mengklaim, "Amerika Serikat bersama rakyat Libya dan akan tetap mengiringi perjalanan mereka menuju demokrasi hakiki."
Menyusul tekanan opini publik, negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat berjanji akan mengucurkan bantuan hingga 2,5 milyar USD hingga akhir Agustus dan akan mencairkan seluruh aset Libya sebagai bantuan finansial kepada Dewan Transisi Nasional. (ir/ko)
Walaupun masa silam Tarekat Mason Bebas masih tersimpan dalam bentuk gedung-gedungnya yang lama, dalam ingatan ia telah pudar terhapus oleh waktu. Studi ini bermaksud untuk memberi tempat kepada Tarekat Mason Bebas dalam sejarah Indonesia selama abad 19 dan 20,
Menjadi pertanyaan yang menggelitik pemikiran bagaimana para anggota dari suatu pergerakan yang merupakan ciptaan dari masa Penerangan Eropa dan yang dipindahkan ke bumi Asia, dapat mewujudkan cita-cita humanistis dalam suatu alam kolonial.
Bagaimana pula para anggota Tarekat Mason Bebas bereaksi terhadap ketimpangan-ketimpangan dan apa pula usaha mereka untuk memperbaiki keadaan ini? Memang harus diakui bahwa dengan keanggotaan yang hanya berjumlah paling banyak 1500 orang dan yang tersebar di antara 25 satuan loge, pengaruhnya pasti terbatas. Namun, di mana mereka bergerak hasilnya nyata.
Penulis, seorang sejawaran dari Universitas Amsterdam, juga berpendapat bahwa loge merupakan tempat-tempat dimana orang belanda dan orang Indonesia dapat bertemu pada tingkat yang sama tinggi dan sama rendah dalam suasana saling menghormati.
The "Black Nobility" adalah keluarga oligarki Venice dan Genoa, Italia, yang pada abad ke-12 mempunyai hak-hak kehormatan perdagangan (monopoli). Perang salib yang pertama dari tiga perang, dari 1063 sampai 1123, membangun kekuatan Venetian Black Nobility dan mengukuhkan kekuasaan kelas kaya yang berkuasa. Aristokrasi the Black Nobility mendapatkan kekuasaan penuh atas Venice pada tahun 1171, ketika penunjukan the Doge diubah menjadi apa yang dulu diketahui sebagai the Great Council, yang terdiri dari anggota-anggota aristokrasi komersial. (diantara mereka keluarga de'Medici). Venice telah ada ditangan mereka setelah itu, tetapi kekuasaan dan pengaruh Venetian Black Nobility meluas jauh keluar batasnya, dan sekarang dapat dirasakan disetiap penjuru dunia. (jangan lupa, sistem perbankan modern kita berasal dari Italia.)
Pada tahun 1204 keluarga oligarki membagi kedalam beberapa bagian teritori negara feodal kepada anggota keluarganya, dan dari era ini ada pembangunan kekuasaan dan tekanan yang besar sampai pemerintah menjadi korporasi tertutup (bukankah kita tahu ini dari suatu tempat?) kepemimpinan keluarga Black Nobility. Lebih lanjut dapat ditemukan dalam tulisan Dr. John Coleman, Black Nobility Unmasked World-wide, 1985; Conspirators' Hierarchy: The Story of the Commitee of 300, 1992. Pertanyaan: Cerita Christopher Columbus adalah buatan. Bagaimana dengan cerita Marco Polo?
The Black Nobility mendapatkan gelarnya tersebut melalu trik-trik kotor, jadi ketika penduduk memberontak melawan monopoli dalam pemerintah, seperti di tempat lain, para pemimpin pemberontakan dengan cepat ditangkap dan digantung. The Black Nobility menggunakan pembunuhan, pemerasan, pembangkrutan penduduk yang melawan, penculikan, pemerkosaan dan lain-lain...karena ini lah namanya. Siapakah keluarga-keluarga ini sekarang? Yang paling terkenal adalah:
House of Bernadotte, Swedia
House of Bourbon, Perancis
House of Braganza, Portugal
House of Grimaldi, Monaco
House of Guelph, Britania (yang paling penting)
House of Habsburg, Austria
House of Hanover, Jerman (yang paling penting kedua)
House of Karadjordjevic, Yugoslavia (sebelumnya penting)
House of Liechtenstein, Liechtenstein
House of Nassau, Luxembourg
House of Oldenburg, Denmark
House of Orange, Belanda
House of Savoy, Italia
House of wettin, Belgia
House of Wittlesbach, Jerman
House of Wurttemberg, Jerman
House of Zogu, Albania
Semua keluarga yang dapat dilihat pada silsilah keluarga Windsor
Semua keluarga yang tercantum tersambung dengan the House of Guelph, salah satu keluarga Black Nobility Venice asli, yang mana the House of Windsor dan Ratu Inggris sekarang, Elizabeth II, merupakan keturunannya. The Guelph terikat satu sama lain dengan aristokrasi Jerman melalui House of Hanover yang mana membutuhkan beberapa halaman untuk menyebut semua koneksinya. Hampir semua royal house Eropa berasal dari House of Hanover dan dari house of Guelph - the Black Nobility.
Sebagai contoh: Hanoverian British King George I datang dari the Duchy of Luneburgm bagian dari Jerman bagian utara, yang telah diperintah oleh keluarga Guelph sejak abad ke-12. Sekarang the Guelphs (the Windsors) berkuasa dengan mendominasi pasar bahan mentah, dan selama bertahun-tahun telah menentukan harga emas (sebuah komoditas yang mereka tidak hasilkan dan tidak punyai). The House of Windsor juga mengontrol harga tembaga, zinc dan timah. Bukan kebetulan di mana nilai tukar komoditas terdapat di London, Inggris. Perusahaan-perusahaan yang dijalankan oleh keluarga-keluarga Black Nobility adalah British Petroleum, Oppenheimer, Lonrho, Philbro dan banyak lagi.
Keluarga Black Nobility yang lain adalah the Grosvenors di Inggris. Selama berabad-abad keluarga ini hidup, seperti kebanyakan keluarga Eropa, dengan sewa tanah. Sekarang keluarga tersebut mempunyai 300 hektar tanah di pusat kota London. Tanah tersebut tidak pernah dijual, tetapi dikontrakkan dengan perjanjian kontrak 39 tahun - sewa tanah pada masa pertengahan. Grosvernor Square, yang mana kedutaan besar Amerika berada, dipunyai oleh keluarga Grosvernor, sama seperti Eaton Square. Di Eaton Square apartments disewakan dengan harga 25000 sampai 75000 pounds per bulan (dan itu tidak termasuk biaya pemeliharaan). Ini sebagai gambaran betapa kayanya mereka dari apa yang mereka dapatkan dari sewa tanah, dan kenapa keluarga-keluarga ini seperti the Windsors sama sekali tidak tertarik dengan kemajuan industri yang memanfaatkan kelebihan penduduk. Ini adalah alasan utama kenapa keluarga-keluarga ‘noble' ini kebanyakan, tidak semua, mengepalai secara salah gerakan-gerakan pro-lingkungan dunia yang utamanya dan secara diam-diam (tentunya) bertujuan untuk membendung pertumbuhan penduduk. Pangeran Philip dan Pangeran Charles adalah simbol yang paling dapat dilihat dari gerakan ini, dan keduanya telah sering berkata dengan gamblang tentang perlunya membersihkan dunia dari orang-orang yang tidak diinginkan.
The Black Nobility adalah pendiri dari secret society sekarang di mana semua yang lain yang terhubung dengan Illuminati berasal dari - the Commitee of 300. The Club of Rome, the C.F.R, the R.I.I.A., the Bilderbergers, the Round Table...semua berasal dari the Committee of 300 dan dari keluarga-keluarga Black Nobility Eropa.
Yang bekerja sama dengan Black Nobility Eropa adalah keluarga-keluarga Amerika seperti the Harrimans dan the McGeorge Bundys. The House of Hanover terlihat orang Jerman, tetapi ia adalah Yahudi. Sama juga dengan the House of Habsburg. Jadi sebenarnya bukan orang Jerman yang mengambil tahta Inggris
Sovereign Military Order of Malta, juga dikenal sebagai Sovereign Military Order of St. John of Jerusalem , adalah sebuah kelompok persaudaraan tertutup Gereja Katolik Roma. Para anggotanya yang aktif harus beragama Katolik dan sudah bertugas di militer. Mereka ambil bagian dalam upacara-upacara rahasia dengan mengenakan pakaian upacara feodal, dan memegang erat mentalitas pembagian kasta secara ketat sebagai bagian dari inisiasi mereka kedalam dogma Rosicrucian.
Menyaring secara ketat anggota eselon atas dan harus berasal dari lingkungan keluarga aristokrat serta harus bisa menunjukkan bukti coat-of-arms keluarga sedikitnya selama kurun waktu 300 tahun dalam rangkaian yang tak putus dari bapak ke anak. The Sovereign Grand Master orde ini diakui sebagai seorang kepala negara, dan otoritasnya dipastikan oleh kedudukannya sebagai seorang Pangeran dan sebagai seorang Kardinal dalam gereja Kristen. Statusnya di bawah hukum internasional sebagai organisasi independen yang berdaulat, menjamin kesetiaan kebangsaan dari para anggotanya, di atas kesetiaan kepada negaranya sendiri - mereka juga mempunyai status Permanent Observer di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Grand Master yang sekarang adalah Andrew Willoughby Bertie, seorang keturunan Maria Stuart (Maria Stuart, Ratu Scots ) yang menempatkannya dengan kuat pada Sion/skenario sejarah Grail.
Orde dan anggotanya dibuktikan terkait dengan "Rat Run" , rute jalan pelarian setelah Perang Dunia II yang digunakan oleh para petinggi Nazi dan ilmuwan death camp Jerman ke Amerika. Sewaktu melarikan diri mereka menggunakan paspor dengan identitas palsu yang memungkinkan mereka bisa menghindar dari tuntutan sebagai penjahat perang. Tanpa alasan yang jelas, setelah perang aberakhir, tanda jasa “the Grand Cross of Merit” diberikan kepada Jenderal Nazi, Reinhard Gehlen, Kepala Dinas Rahasia Wilayah Timur Hitler, yang sangat berperan dalam kekejaman dan kejahatan yang dilakukan Nazi di Rusia dan Eropa Timur – terutama sekali pembantaian yang dilakukan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap orang Yahudi dan Slav.
Persaudaraan Katolik dan para keturunan aristokrat menjadikan the Knights modern sangat anti-komunis. Tanggungjawab besar berdirinya CIA berada ditangan orde ini, termasuk banyak operasi global lainnya. Pendiri CIA (the founding fathers) adalah dua orang anggota the Knight yaitu William "Wild Bill" Donovan dan Allen Dulles, termasuk direktur CIA William Casey semasa Ronald Reagan dan John McCone semasa JFK. Menurut wartawan " Watergate " Carl Bernstein, Casey memberikan akses kepada Paus John Paul II ke dalam dinas rahasia CIA yang sebelumnya tidak pernah diberikan, termasuk kepada satelit mata-mata dan para agennya.
Sebenarnya orang bisa menyalahkan awal terjadinya Perang Dingin secara pribadi kepada "Wild Bill" Donovan. Pada akhir Perang Dunia I Donovan memimpin sebuah misi rahasia ke Siberia untuk mengamati Revolusi Rusia. Karena pengintaiannya ini sebuah kesatuan Amerika dikirim dan diperintahkan untuk memerangi orang Rusia Bolshewik yang secara umum dianggap sebagai sekutu, seperti ketika mereka masih berperang melawan Jerman bersama-sama dengan Inggris dan Perancis dalam parit perlindungan di Eropa. Pasukan Amerika tidak habis berpikir mengapa mereka diperintahkan membakar pedesaan dan "membunuh para petani yang miskin dan lapar, yang sudah diperlakukan dengan sangat buruk oleh penguasa mereka", sebagaimana ditulis oleh seorang "doughboy" kepada istrinya. Hal itu bukan merupakan kebiasaan dalam sejarah Amerika untuk berpihak kepada penguasa aristokrat Eropa melawan terhadap rakyatnya. Motivasi Donovan untuk memerangi Bolshewik hanya karena kesetiaannya kepada Vatican/Knights of Malta, karena Revolusi Rusia bukan merupakan ancaman terhadap Amerika Serikat. Sebagai konsekuensinya pada bulan Juli tahun 1944 Sri Paus Pius XII menganugerahkan Donovan dengan 'Grand Cross of the Order of St. Sylvester', tanda kehormatan kekesatriaan paus yang paling tua dan paling bergengsi, dan anugerah Katolik yang paling tinggi yang pernah diterima oleh orang Amerika. Kurang dari seratus orang yang sudah menerima anugerah ini sepanjang perjalanan sejarah.
Wilayah-wilayah kunci yang dikontrol Knights of Malta adalah Afrika dan Amerika Latin, para diktator seperti Jenderal Pinochet, pembunuh massal dan jajarannya adalah termasuk kelompok mereka.
Keanggotaan di Amerika Latin termasuk Loji Masonic "P2", orang-orang fasis dan Nazi yang selamat, yang secara langsung bertanggung jawab atas pembentukan gerakan neo-Nazi modern. Knight dan Nazi pelarian Otto "Scarface" Skorzeny yang memimpin penyerangan atas wilayah Cathar di Perancis dalam pencarian artefak termasuk artefak okult Holy Grail, memainkan peran penting dalam pelarian *zi yang tidak meloloskan diri ke Eropa, yaitu William Don2Rat Run" Vatican. Ia seorang sahabat karib presiden Argentina Knight Juan Peron, yang menurut dokumen CIA terbaru terbukti terlibat dalam ‘pencucian emas' Nazi melalui Vatican Bank. Adalah sesuatu yang menyenangkan bagi seorang anggota Novan yang bertindak sebagai ajudan kepala Jaksa Penuntut Amerika pengadilan Nuremberg paska perang, setelah menyerahkan kekuasaan OSS/CIA kepada rekannya Knight Allen Dulles.
Seperti apa yang diungkapkan oleh seorang pengarang Katolik Roma, Penny Lernoux didalam bukunya "People of God "
"Setelah perang berakhir, Vatican, OSS, SS, dan berbagai cabang dari Sovereign Military Order of Malta bergabung melawan musuh bersama, yaitu Sovyet - dan untuk menolong penjahat perang Nazi melarikan diri ... Baron Luigi Parrilli, seorang aristokrat Italia dan anggota Knight of Malta/pejabat bendahara kepausan, ambil bagian dalam negosiasi antar pimpinan SS dan CIA Allen Dulles."
Sebelum bekerja untuk OSS (ia memimpin setasiun OSS di Swiss selama berlangsungnya perang) Allen Dulles dan mitra hukumnya John Foster bekerja sebagai para manajer dan pengacara untuk Standard Oil milik John D. Rockefeller. Mereka secara pribadi menjadi pialang kemitraan antara Standard Oil dan perusahaan kimia IG. Farben. I.G.Farben tidak hanya menghasilkan bensin untuk mesin perang Nazi, juga membuat "Zyklon B", memperkerjakan tenaga kerja budak sebelum dan selama perang (termasuk pabrik petro-kimia besar yang berdampingan dengan death camp Auschwitz), pemilik Bayer Pharmaceuticals yang menurut sebuah tuntutan perkara, mereka secara langsung dilibatkan dalam percobaan Auschwitz yang mengerikan yang dilakukan oleh Dr. Josef Mengele, dan membantu pemboman Sekutu untuk kepentingan Rockefeller. Wartawan terkemuka masa perang George Seldes yang mencoba untuk mengungkapkan hal ini "unholy alliance -persekutuan kotor" melalui artikel-artikelnya dalam surat kabar, tetapi jarang diterbitkan pada waktu itu, mereka melakukan usaha-usaha percobaan membunuhnya. Joseph Heller mengarang 'roman sindiran dengan judul "Catch 22" membuat jelas kegilaan ini dengan kata-kata "kita setuju untuk membom basis kita sendiri sebagai penukar pembelian coklat termasuk kapas oleh Nazi".
Dengan semakin meningkatnya ketegangan Perang Dingin, mantan agen Vatican dan Knight, Joseph H. Retinger, bertintak atas nama Vatican dan Priory of Sion, secara efektif membina hubungan erat dengan the European Council of Princes - Dewan Pangeran-pangeran Eropa (nama terhormat untuk the Dragon Sovereignty ), dinas rahasia CIA dan MI6 Inggris memembentuk kelompok think-tank the New World Order – Tatanan Dunia Baru, yaitu the "Bilderberg Group", dimana Henry Kissinger merupakan anggota permanen. Ketua pertamanya adalah Prince Bernhard dari Negeri Belanda, yang memegang jabatan itu selama 22 tahun, sampai terjadi sebuah skandal keuangan yang memaksa dia untuk mengundurkan diri. Putrinya, Ratu Beatrix, co-owner Shell Oil secara teratur menghadiri pertemuan-pertemuan, seperti banyak dilakukan anggota aristokrat Eropa lainnya. The "Bilderberg Group" yang tidak demokratis ini terus melanjutkan memainkan bagian penting dalam masalah-masalah internasional, dan tetap tertutup rapat untuk umum dan keikutsertaannya.
Dokumen-dokumen menunjukkan bahwa Kardinal kota New York Francis Spellman secara langsung terlibat dalam perebutan kekuasaan militer sayap kanan Guatemala pada tahun 1954, yang menyebabkan terjadinya pembunuhan ribuan orang, dan diakui CIA keterlibatannya. Ia juga terhubung dengan kelompok neo-Nazi "P2" dan Mafia karena hubungan yang lama dengan anggota "P2" Archbishop Paul Marcinkus dari Chicago, mantan kepala Vatican Bank, yang dicurigai secara serius oleh pemerintah Italia atas kematian yang mencurigakan Sri Paus John Paul I. Kardinal Spellman tidak hanya teman lama pendiri CIA "Wild Bill" Donovan (yang sebelumnya mempunyai law firm di New York) tetapi adalah sebagai kepala the Knights of Malta di Amerika sepanjang tahun 40-60-an, dan bertanggung jawab atas sejumlah besar uang yang diperoleh dari para anggota, yang harus membayar ribuan dolar setiap tahunnya agar tetap menjadi anggota orde.
The Sovereign Military Order of Malta (SMOM) secara langsung bersekutu dengan Freemasonry Internasional, dari mana mereka merekrut saudara elit yang baru. Karena, the Knights of Malta dan Knights Templar adalah Rosicrucian upper-degrees dari Freemasonry.
Menurut "Knight of Darkness" pengarang Francois Hervet:
"Freemasonry secara umum mengaku bersifat bermusuhan dengan paham Katolik... namun demikian pada bulan Desember tahun 1969 sebuah pertemuan eksklusif diselenggarakan di Roma di kantor Count Umberto Ortolani, duta besar the Knights of Malta untuk Uruguay, yang disebut sebagai 'otak ' di balik loji Masinic "P2". Sebagai tambahan terhadap Ortolani, pertemuan hanya dihadiri Licio Gelli, Roberto Calvi dan Michele Sindona"; mereka semuanya yang terlibat atas kematian Sri Paus John Paul I dan penipuan besar-besaran bank.
Ironisnya, dalam tahun-tahun belakangan ini kepercayaan Katolik tidak lagi merupakan prasyarat penting untuk para anggota potensial yang mempunyai koneksi-koneksi yang sesuai. Pihak-pihak non-aristokrat sekarang dapat diinisasi oleh the "Magistral Grace" of Grand-Master, meski bukan di Inggris, Jerman dan Negara-negara Eropa lainnya dengan tradisi kuat kebangsawanannya. Bagaimanapun, hal ini membolehkan orang Amerika bergabung dan sudah banyak, dan sebuah "Order of Merit" bisa dianugerahkan kepada mereka yang dinilai sudah dengan sempurna melayani Knights atau dalam pekerjaan-pekerjaan mereka. Seperti mantan Presiden Ronald Reagan dan George Bush adalah inisiasi kehormatan, and Reagan was the toast of an extravagant dinner held by the Order in 1989.
Saat ini lebih dari 11,000 anggota the Knight di seluruh dunia, Grand-Master dan Sovereign Council masih tetap berbasis di Roma. Tujuan politik Feudalisme mereka nampak jelas terlihat dalam tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Prince Hans Adam II, raja Liechtenstein yang didukung oleh keluarga Habsburg dan seorang the Knight of Malta yang terkemuka serta anggota Opus Dei Vatican, yang Pada Bulam Oktober 1999 ditegur oleh Pengadilan Eropa mengenai Hak Azasi Manusia, karena ia mengaku mempunyai otoritas konstitutional terakhir terhadap Mahkamah Agung milik negaranya. Sementara usaha-usaha sukses yang terbaru dalam manuver Eropa ke arah diterimanya seorang Presiden Eropa telah dipimpin oleh Knight dari Malta Gistard d'Estaing, dan didukung oleh Inggris, Perancis, Jerman, Italia dan Spanyol.
Padanan Protestan untuk the Knight of Malta Katholik, juga yang dikenal sebagai the Order of St. John of Jerusalem, memperoleh kredibilitas lebih besar ketika Ratu Inggris HM Ratu Victoria menjadi Sovereign Head mereka dalam tahun 1888. Order of St. John ini yang sekarang dikepalai oleh Sovereign Head HM Queen Elizabeth II, dengan cara yang sama menggunakan lencana the Cross of Malta sebagai lencana mereka. Sementara mereka juga mengakui bahwa derma dan melindungi yang miskin sebagai alasan utama mereka, hal ini sudah dipergunakan sebagai sebuah alat dari Imperialisme Barat dalam kurun waktu 1000 tahunan, dan dimulai dengan Perang Salib untuk menduduki Jerusalem. “Charitable Concern” ini tidak mungkin harus didahulukan atas agenda rahasia sejarah mereka - pemenuhan nubuatan St. John the Divine, yang bertindak sebagai the Protestant Order of St. John baru-baru ini diberikan keanggotaan non-gevernmental oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Seperti rekannya Katolik, posisi the Protestan Order di PBB memberikan akses lebih besar atas pengambilan keputusan PBB dan terhadap negara-negara berkembang yang rawan. Tidak diragukan lagi kepentingan Vatican, the British Crown dan the Rosicrucian fraternity, akan mengambil preseden atas setiap bantuan murni yang ditawarkan kepada dunia yang paling fakir dan miskin.
Lambang Cross of Malta adalah lencana asli dari Knights Templar yang kontroversial itu, dan diadopsi sebagai lencana resmi the Knights of Malta, ketika the Knights Templar terpaksa menyerah pada otoritas Vatican.
Inisiasi okult akan menemukan bahwa seperti halnya gambar pentagram - bintang berujung lima, the Cross of Malta serupa dengan sebuah cryptogram - tulisan rahasia untuk Goat of Mendes, perlambang sex jantan - Androgenous Templar patung Baphomet, yang menggambarkan janggut dan tanduk kambing.
Ini adalah simbol tentang hal yang berhubungan dengan pengendalian roh oleh Keinginan, dan pengendalian arah magi terhadap energi-energi seksual. Grand Master the Knights of Malta sebelumnya, termasuk Manuel de Fonseca, dikenal telah melakukan inisiasi tradisi Templar, dan menurut Soveregin Grand Master saat ini, Prince Nicholas de Vere von Drakenberg, yang merupakan seorang keturunan langsung pencipta Knights Templar Godfroi de Vere de Bouillon, Templars adalah "sebuah orde pengikut Setan, yang upacaranya termasuk pembunuhan terhadap bayi, sodomy dan sihir".
Knight Of Templar! ordo ksatria Kristen yang paling ditakuti pada masa perang salib. Penemu sistim perbankan dan kartu kredit pertama di eropa di abad ke 13, menguasai tanah yang luas di eropa dan tanah suci, pendiri banyak sekali katedral gothik terkenal, diyakini sebagai penemu dan pengawal tabut perjanjian ( ark of covenant ) Musa, cawan perjamuan Kristus, Mandillon asli. Terjalin dengan tesis teori konspirasi mulai dari zaman Mesir kuno, sampai ke illuminati, freemasonry, dan one world order. Menguasai keuangan eropa pada abad pertengahan, merupakan ujung tombak pasukan Crusader di tanah suci, pendiri negara swiss, hingga akhirnya karena kekuatannya yang demikian besar pihak gereja Katolik saat itu berkonspirasi dengan raja perancis melakukan tuduhan palsu terhadap ordo tersebut.
Puncaknya pembantaian besar-besaran terhadap para Templar yg dilakukan oleh inkuisisi Roma dengan berbagai tuduhan mulai dari perilaku seks menyimpang hingga pemujaan terhadap Bahomet. Hari penangkapan para Templar yang jatuh di hari Jumat tgl 13 hingga kini dianggap sebagai hari sial di dunia barat.
Latar Belakang Templar dibentuk oleh 8 orang ksatria frankish (perancis) dibawah pimpinan Hughues De Payen atas restu raja Baldwin (penguasa Yerusalem). Nama mereka yaitu 'The Poor Knights of the Temple of Solomon' diambil dari markas pertama mereka yang terletak di kompleks bekas kuil raja Salomo (Sulaiman). Dome of Rock atau Masjid Al-Aqsa sempat dijadikan pusat administrasi para Templar saat itu. Sejarawan modern telah menemukan bukti fisik tentang adanya ekskavasi (penggalian) yang dilakukan para Templar di lokasi itu. Jadi bisa dikatakan misi arkeologi modern yg pernah dilakukan guna mencari ark of covenant (tabut perjanjian Musa) telah didahului para Templar hampir seribu tahun lalu.
Pemimpin Templar disebut Grand Master ( Jacques De Molay adalah Grand Master yg terakhir ). Sebagai organisasi militer, Templar memiliki daerah teritori sendiri dan menarik pajak perlindungan buat pedagang-pedagang yang melewati wilayahnya. Sebagai ordo kerahiban, Templar berhak menerima donasi ataupun persembahan dari jemaat yang dilayani mereka. Karena dualismenya itu, Templar dibebaskan dari pajak kepada penguasa/raja wilayah dimana mereka bertempat karena status istimewanya itu Templar juga dibebaskan dari kewajiban menyetor hasil persembahan kepada keuskupan wilayah. Pada zaman kejayaannya Templar memiliki puluhan kastil dan biara yang tersebar dari Skotlandia hingga ke daerah tanah suci (palestina).
Komunitas Templar Dalam Ordo Templar, untuk menjadi Full Knights, seseorang haruslah berasal dari kaum bangsawan ( keluarga Duke, Baron, Counts, etc ). Kemudian mereka haruslah melepas kebangsawanannya, menyerahkan keseluruhan harta mereka kepada Ordo dan mengikuti kehidupan biarawan yg ketat dan tegas. Peraturan yang harus mereka jalani adalah :
1. Ksatria Templar dalam pertempuran, haram hukumnya untuk mundur kecuali kalah dalam jumlah lebih dari 1 : 3, Jadi apabila jumlah Templar 300 dan musuh berjumlah 900, maka Templar tidak akan dan dilarang untuk mundur. 2. Perintah mundur itu pun hanya dilakukan oleh Grand Master atau pemimpin kontingen di saat itu 3. Templar senantiasa mengibarkan Standar Banner mereka yg disebut ' Beausant ' dan selama standart banner itu berkibar, berarti jumlah musuh masih 1:3 atau seorang ksatria Templar tetap wajib untuk bertempur. 4. Templar selalu berpedoman pada doktrin :" The First To Charge on Enemy and The Last To Retreat " yang diadopsi oleh US.Marine dalam hymne US. Marine :"..From The Halls of Montezuma.......the first to fight...tha last to retreat" 5. Seorang templar harus berkaul kekal. bahkan sejak menjadi Templar hingga mati mereka diharamkan melepas celananya ( bahkan untuk mandi sekalipun!) kecuali pada saat terpaksa harus menggantinya karena sobek atau rusak.
Di Perang Salib Disaat perang salib, Templar adalah ksatria eropa yg paling ditakuti kaum muslim. Sedemikian takutnya hingga Sultan Salladin ( Salahudin Al Ayubi ) yang terkenal akan kebijaksanaan dan belas kasihnya itu tidak memberikaan pengampunan bagi satupun ksatria Templar yg tertawan setelah kekalahan di perang Hatiin. Para ksatria Templar itu dianggap terlalu berbahaya bahkan untuk menjadi tawanan sekalipun.
" Beau Sant ! " adalah seruan perang kaum Templar yg selalu mengiringi serangan kavaleri mereka. Templar selalu berada digaris depan dalam tiap pertempuran semasa perang salib ( Crusades). Mereka memiliki peraturan yang ketat dalam bertempur. Antara lain adalah selalu menyerang paling depan, dan (apabila terpaksa) selalu menjadi yang paling akhir untuk mundur. Seorang ksatria Templar diharamkan untuk lari dari hadapan musuh, dan hanya diperbolehkan mundur apabila jumlah musuh lebih banyak 1:3 dari jumlah mereka.
Sejarah mencatat suatu peristiwa yang menggambarkan keberanian mereka yaitu dalam pertempuran Nazareth ( The battle of Nazareth ) dimana ketika itu kerajaan latin (Eropa) yang berpusat di Yerusalem sedang dalam gencatan senjata dengan pihak muslim dibawah pimpinan Saladin. Ketika itu Saladin meminta izin pada pihak kristen untuk melakukan eksplorasi dan survei didaerah Nazaret. Izin itu diberikan dengan syarat tidak ada seorang nasrani-pun yang diserang dan kaum muslim menaati-nya.
Bagitu berita itu tiba di garnisun templar didaerah itu, Grand Master saat itu Gerard De Ridefort langsung memerintahkan penyerangan terhadap kontingen Arab tersebut. De Ridefort dikenal sebagai salah satu Grand Master yang paling militan dan agresif. 300 ksatria berkuda dipimpinnya ke Nazaret dan bertemu dengan pasukan ekspedisi Arab dibawah pimpinan Mahmoud Al Afdhal, putra dari Saladin yang jumlahnya 7000 prajurit dan kavaleri. Dengan perbandingan lebih dari 1:20, para ksatria Templar menyerang musuh mereka tanpa memperhatikan jumlah. Pertempuran itu jelas dimenangkan pasukan Arab dan hanya menyisakan 3 ksatria Templar yang selamat (termasuk Grand Master Ridefort) tapi menunjukan keberanian yang luar biasa dari para rahib-ksatria itu.
Kekayaan dan kepemilikan Templar atas banyak sekali relik suci dan naskah kudusnya adalah ancaman bagi eksistensi gereja Katolik (bahkan fundamen ajaran Kristen) pada masanya. Oleh karena itu Konspirasi Vatikan dan Raja Frankish waktu itu berhasil mengakhiri ordo Rahib-Ksatria itu dengan tuduhan2 serta fitnah2 palsu. Pada akhirnya sejarah Templar dikaburkan dan berusaha dihapus dari catatan sejarah hingga saat ini.
Sejak Jacques De Molay, Grand Master templar terakhir dieksekusi, para ksatria Templar yg selamat dari holocaust inkuisisi mendapatkan perlindungan di Skotlandia dimana para ksatria Templar bertempur bersama Robert 'Braveheart' The Bruce melawan Inggris dan membangun Rosslyn Chapel yg terkenal amat mistis karena geometri magisnya (dipercaya pernah menjadi tempat penyimpanan sementara relik kudus Templar seperti Holy Grail dan Tabut Perjanjian Musa!), sebagian Templar mendapat perlindungan di Portugis dgn mengganti nama Ordo mereka dibawah perlindungan Henry the Navigator. Sebagian lagi tetap berada di benua Eropa dengan menjadi organisasi rahasia Klandestain yang disebut Free Mason dimana salah satu cabang dari organisasi ini dipercaya menjadi pendiri negara Swiss.
Pemusnahan Ordo Templar Seperti 'ciri khas' Inquisitor di abad pertengahan, para kaum Templar di fitnah dgn bermacam tuduhan mulai dari menyembah tengkorak-sodomi hingga menginjak salib. Sebuah kebiasaan dari Gereja Katolik yang terkenal sangat korup dan penuh kolusi di abad pertengahan ( tuduhan yg sama juga dialamatkan pada Joan of Arc )
Alasannya jelas bahwa, ordo Templar merupakan ordo paling kuat dan kaya dimasa itu. Gereja Katolik merasa iri karena penguasaan banyak sekali kapel dan kastil oleh Templar, belum lagi relik-relik suci mulai dari kain Kafan Turin, Mandylon (lukisan darah wajah Yesus) hingga cawan perjamuan terakhir dan Tabut perjanjian Musa (Ark of Covenant) yang paling dicari sepanjang masa itu. Sementara raja Phillip menghasut Paus karena dia sedang memiliki hutang yang besar terhadap kaum Templar.
Namun tidak satupun harta maupun relik kudus yg ditemukan kecuali ratusan Ksatria yang (anehnya) sukarela menyerahkan diri mengalami siksaan dengan tuduhan palsu tersebut. Para ahli banyak menduga bahwa ratusan ksatria tersebut sengaja berkorban untuk melindungi Relik paling suci mereka yaitu 'The Holly Grail' dan "The Ark of Covenant". Hal itu dipicu dengan menghilangnya seluruh armada Templar dari pantai Perancis malam sebelum penangkapan tersebut.
Secret Society Setiap kelompok Templar yang Survive tersebut terus melanjutkan hirarki kepemimpinan mereka secara terpisah di negeri pengasingan mereka. Di Skotlandia hingga kini ada organisasi Scottish Templar dan di Amerika malahan hirarki kepemimpinan organisasi templar amat mirip dgn rantai komando mereka semasa perang salib dimana di setiap negara bagian AS memiliki komando teritori masing-masing. Templar di Portugis berubah nama menjadi Ordo Fatima yg mendapat perlindungan khusus dari kerajaan.
Dari sudut Secret Society, penangkapan Ordo Templar, merupakan salah satu cara untuk kembali meng -secret-society-kan-ordo tersebut dan menyatukannya kembali dengan Ordo Zion setelah Templar berhasil menunaikan tugas mereka di tanah suci selama perang salib. Tugas Utama yg dirahasiakan bukanlah untuk berperang melawan kaum Islam atau melindungi para peziarah, melainkan menemukan dan mengamankan relik paling suci yg ada : Holly Grail dan Ark of the Covenant!
Selain itu dalam sumber independen kita juga bisa menemukan hubungan antara legenda bajak laut di Karibia dengan Templar. Sejak armada Templar menghilang dari pelabuhan La Rochele Perancis, satu hari sebelum holocaust berlangsung, banyak penyelidik yakin bahwa armada templar mengganti lambang Salib merah berujung delapan menjadi lambang tengkorak dan dan tulang menyilang (skull & crossbone) untuk mengenang holocaust tersebut. Di Inggris banyak sekali makam templar yg pada nisannya terukir lambang tersebut.Oleh para pelaut abad ke 15 -16 lambang tersebut kemudian terkenal dgn sebutan " Jolly Rogers ".
Secara organisasi resmi, Ordo Templar sudah di hapus oleh Paus Clement sejak abad ke 14 namun 'main body' dari Templar tetap hidup hingga saat ini dalam bentuk secret society yang sering disebut Illuminati, nah salah satu kepanjangan tangan secret society tersebut di Amerika serikat adalah CFR atau council of Foreign relation yang dibentuk di thn 30 -an. CFR itu berisi tokoh2 penting di AS seperti bankir, senator dan indutrialis yang 'secara kebetulan' adalah anggota Freemasonry ( secret society yg merupakan turunan langsung dari Ordo Templar di Skotlandia ).
Salah satu tokoh hasil 'ciptaan' sayap Masonic AS ini adalah J.Edgar Hoover yg merupakan dedengkot dari semua badan intelejen AS. Soal KGB, saya belum menemukan link seperti itu, namun satu hal yg diketahui adalah bahwa revolusi Rusia yang menjatuhkan monarki dan menggantinya dengan komunisme itu disponsori oleh keluarga bankir Krupps - Rothman yang dikenal sebagai dinasti Illuminati sejak abad ke 18.
Yang menjadi misteri adalah sisa Templar yg menjadi underground. Organisasi spiritual-militer seperti Priory of Sion (perancis) dan SMOTJ (Supremme military Order of the temple of Jerusalem)-Yerusalem, Free-Mason (spiritual-aristokrat) dan Illuminati (bankir-yahudi). Organisasi-organisasi diatas dipercaya memiliki peranan sangat besar dalam politik-ekonomi dunia dengan kekuatan yang melebihi kelompok-kelompok Templar 'tradisional' di Skotlandia, Amerika dan portugis.
Berikut daftar para Grand Master Templar sejak terbentuknya Ordo Knights Templar 1118 sampai 1314 ketika secara resmi dihapuskan olah konspirasi raja Frankish - Vatikan: 1. 1118 - 1136 Hugh de Payens (founding member of the order) 2. 1136 - 1146 Robert de Craon 3. 1146 - 1149 Everard des Barres 4. 1149 - 1153 Bernard de Tromelai 5. 1153 - 1156 Andre de Montbard (salah satu pendiri yg juga merupakan paman dari Bernard of Clairvaux) 6. 1156 - 1169 Bertrand de Blanchefort (Grand Master yg menetapkan Lambang tradisional Templar 'Two knights on one horse seal') 7. 1169 - 1171 Philip de Milly 8. 1171 - 1179 Odo de St Amand 9. 1179 - 1184 Arnold de Toroga 10. 1185 - 1189 Gerard de Ridefort (Grand Master yg bertempur pada pertempuran Hattin dgn pasukan Salladin) 11. 1191 - 1193 Robert de Sable (Grand Master yg melakukan pembelian pulau Cyprus dari Richard I 'The Lion Heart') 12. 1193 - 1200 Gilbert Erail 13. 1201 - 1208 Phillip de Plessiez 14. 1209 - 1219 William de Chartres 15. 1219 - 1230 Pedro de Montaigu 16. (???) - 1244 Armond de Perigord 17. 1245 - 1247 Richard de Bures 18. 1247 - 1250 William de Sonnac 19. 1250 - 1256 Reynald de Vichiers 20. 1256 - 1273 Thomas Berard 21. 1273 - 1291 William de Beaujeu (Grand Master yg gugur dalam pertempuran di Accra. 22. 1291 - 1293 Thiobald de Gaudin 23. 1293 - 1314 Tacques de Molay (The Last Grand Master of The Order)
Grand Master Knights of Templar pasca holocaust dari inkuisisi menurut sumber dari SMOTJ (Sovereign Military Order of the Temple of Jerusalem). Knight of Templar tidak berakhir bersamaan dgn kematian De Molay. Menurut dokumen yg disebut Larmenius Charter, Jacques de Molay sempat mengangkat John Mark Larmenius seorang ksatria Templar yg bertugas di Napoli menjadi Grand Master penggantinya.
Berikut daftar Grand Master pasca holocaust 1314:
1. 1313 - 1324 John Mark Larmenius 2. 1324 - 1340 Thomas Theobald of Alexandria 3. 1340 - 1349 Arnaud de Braque 4. 1349 - 1357 Jean de Claremont 5. 1357 - 1381 Bertrand du Guesclin 6. 1381 - 1392 Bernard Arminiacus 7. 1419 - 1451 Jean Arminiacus 8. 1451 - 1472 Jean de Croy 9. 1472 - 1478 Bernard Imbault 10.1478 - 1497 Robert Leononcourt 11.1497 - 1516 Galeatius de Salazar 12.1516 - 1544 Gapard de Galtiaco Tavanensis 13.1544 - 1574 Phillipe Cabot 14.1574 - 1615 Henry de Montgomery 15.1615 - 1651 Charles de Valois 16.1651 - 1681 Jacques Ruxellius de Grancieo 17.1681 - 1705 Jacques Henry Duc de Duras 18.1705 - 1724 Phillipe, Duc D'Orleans 19.1724 - 1737 Louis Augustus Bourbon 20.1737 - 1741 Louis Henry Bourbon Conti 21.1741 - 1776 Louis-Francois Bourbon Conti 22.1776 - 1792 Louis-Hercule Timoleon, Duc de Cosse Brissac 23.1792 - 1804 Claude-Mathieu Radix de Chavillon 24.1804 - 1838 Bernard Raymond Fabre Palaprat
Pada pertengahan abad ke 12, di Syria terdapat sebuah kelompok rahasia para penghisap ganja. Mereka berusaha merebut tahta kepemimpinan Islam pada masa itu dengan cara-cara kekerasan. Kelompok ini memiliki struktur organisasi rapi. Mereka membangun sistem sel bawah tanah. Membentuk agensi dan spionase dengan struktur kepemiminan piramidal. Jaringan intelijen piramidal ini mereka gerakkan di tengah masyarakat Muslim di seluruh dunia.
Dalam kepemimpinan piramidal ini, ada satu pemimpin tertinggi. Tugasnya mengatur se1uruh agen-agen di berbagai wilayah masyarakat Muslim. Para eksekutor kelompok dalam organisasinya ini disebut Assassins. Semula, kelompok Assassins ini disebut Nizariyah. Karena, mereka berusaha mengembalikan Pangeran Nizar al- Toyyib ke tahta kekuasaan Mesir. Nizariyah melakukan cara ini karena yakin bahwa Pangeran Nizar al- Toyyib adalah reinkarnasi Nabi Ismail as. Namun berkali Nizariyah salah patron dan gagal meraih tujuan. Akhirnya mereka berinovasi menentukan pemimpin.
Merasa mendapat jalan buntu dan jengah mengalami kegagalan akibat salah memilih pemimpin, Nizariyah mereorientrasi sistem oganisasi dan bertindak berbeda dengan cara-cara sebelumnya. Kali ini, Nizariyah melanggar syariah Islam. Mereka menyabotase dan mengadopsi secara compang-camping akidah Syiah tentang Imam Mahdi.
Dengan dalih mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya Imam Mahdi, Imam ke 12 yang diagungkan masyarakat Syiah, kelompok Nizariyah melancarkan serangan bawah tanah kepada orang-orang yang dianggap musuhnya. Perbuatan Nizariyah ini jelas bertentangan dengan syariah Islam yang disampaikan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan keyakinan masyarakat Syiah. Kepemimpinan Nabi pamungkas itu dilanjutkan oleh 12 Imam. Imam terakhir adalah Imam Mahdi yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai penegak keadilan akhir zaman.
Sehebat apapun atraksi mereka, meski mengklaim gerakannya demi mempersiapkan kehadiran ImamMahdi, sangat jelas mereka melanggar syariat Islam Syiah. Misalnya, kelompok Nizariyah membolehkan setiap pemimpin mereka memiliki hak istimewa; meminum anggur hingga mabuk, menghisap ganja hingga teler. Lebih fatal lagi, pemimpin mereka dihalalkan membunuh umat Islam lainnya dengan dalih jihad. Penyimpangan total terhadap syariat Islam yang mereka lakukan menjadi alasan para ulama Syiah mendakwa mereka sebagai orang-orang murtad dan sesat.
Setelah dinyatakan bersalah dan sesat, kelompok Nizariyah meninggalkan Mesir dan pindah ke Syria. Kemudian, di sana kaum Nizariyah dikenal sebagai kelompok hashshasin. Bahasa Inggris mengkonversi kata ini menjadi Assassins, artinya para pembunuh. Namun penegasan ini masih mengandung kontroversi. Hashshasin yang diartikan "penghisap ganja", menurut beberapa pakar Bahasa Arab berasal dari kata yang artinya "penjaga rahasia-rahasia".
Selanjutnya, dalam kendali kepemimpinan Hasan bin Sabah, kelompok Assassins banyak melakukan serangan gerilya secara keji. Mereka menyerang kota Baghdad dari markas besar Lembah Alamut, di sebelah utara Persia. Mereka berusaha menggulingkan penguasa pada masa itu. Dalam The History of the Assassins, Amin Maluf, menjelaskan bahwa Hasan bin Sabah adalah master budaya dan penyair yang menguasai sains moderen. Hasan bin Sabah berusaha keras membangun organisasi Assassins. Dia adopsi teknik-teknik Darul Hikmat di Kairo, Mesir. Dia berambisi memajukan organisasi yang dipimpinnya itu. Terbukti, setelah dua abad lebih, kel0mpok Assassins lihai membunuh musuh-musuhnya dengan racun dan senjata. Kelompok ini juga mahir melakukan serangan-serangan bawah tanah yang pernah menjadi momok di kawasan Timur Tengah.
Benteng Assassins di LembahAlamut menjadi salah satu legenda Persia yang terkenal dengan sebutan "surga dunia". Marco Polo terkesan akan kemegahan dan kemewahan Benteng Alamut. Usai perjalanannya melintasi benteng itu pada tahun 1271 M, dia menulis:
Di lembah elok itu, di antara dua gunung tinggi menjulang, dia (Hasan bin Sabah) membangun tamantaman mewah. Di dalamnya tumbuh semua pohon berbuah ranum dan segala tumbuhan harum yang bisa dipetik. Istana-istana dengan ragam luas dan bentuk dibangun di setiap hamparan taman yang berbedabeda. Istana-istana itu dihias batu emas. Di dindingdindingnya bergelantungan lukisan-lukisan. Di jendelajendelanya bermacam kelambu sutra mewah terpajang.
Di ruang-ruang istana, suguhan anggur, susu, madu dan air bersih tersaji di tiap sudutnya. Penghuninya gadisgadis cantik molek. Mereka semua pandai bernyanyi, memainkan berbagai alat musik dan menari. Mereka semua manja serta memikat dengan sejuk.
Sebuah kastil kokoh, seolah mustahil dihancurkan menancap di gerbang. Dia ingin tak seorang pun masttk ke "surga dunia" itu tanpa ijinnya. Itulah pintu masuk menuju lembah elok itu.
Hasan bin Sabah merekrut para pemuda di wilayahnya sebagai pengikutnya dengan cara membius mereka dan mengangkutnya ke lembah itu. Setelah sadar, ternyata mereka berada di "surga dunia" itu. Pemandangan surga dunia dipamerkan kepada mereka. Segala kenikmatan bius mereka rasakan berbarengan dengan doktrin-doktrin sebelum akhirnya dilepas kembali ke tengah masyarakat.
Setelah para pemuda itu diculik oleh Hasan bin Sabah untuk dijadikan murid, ketika itu mereka dicuci-otak dengan berbagai merek dan type tipu daya. Akal sehat mereka menjadi hilang. Bagi mereka, sosok Hasan bin Sabah adalah segalanya. Moto mereka kemudian: Tak ada larangan! Semua halal!
Para pemuda "berotak haru" itu telah terbiasa dengan kenikmatan di lembah "surga dunia": Akhirnya mereka merasakan dunia luar tak bernilai apa-apa. Mereka mabuk doktrin Hasan bin Sabah. Setelah terbiasa dengan kemewahan, ketika mereka dikembalikan di lingkungan semula yang sarat dengan kerja keras dan hambatanhambatan, timbul rasa ingin kembali ke taman surgawi Hasan bin Sabah. Untuk mendapatkan lagi kenikmatan"surga dunia" itu, mereka halalkan segala cara dan rela meski nyawa sebagai taruhan.
Art of Imposture (Seni Menipu). Begitu Abdul Rahman menulis. Dia catat muslihat Hasan bin Sabah ketika memerintah seorang murid terdekatnya yang memiliki loyalitas tinggi ditanam hingga leher. Kemudian murid yang hanya kelihatan kepalanya di atas tanah itu dilumuri darah segar. Tampaklah kepala itu tanpa tubuh. Sebelumnya murid terdekat itu dikabarkan terpenggal kepalanya di medan perang. Setelah murid loyal itu benar-benar tampak seolah mati, Hasan bin Sabah mengumpulkan muridmurld barunya untuk menyaksikan kepala berlumur darah tanpa tubuh itu. Di depan murid-murid baru itu, murid loyal yang hanya tampak kepalanya di atas tanah itu mengabarkan kenikmatan surga.
Murid-murid barupun mendengar syair-syair palsu tentang surga yang terujar dari kepala berlumur darah itu. Indah dan menggiurkan. Mereka menyangka, seniornya itu telah masuk surga. Setelah Hasan bin Sabah benarbenar yakin bahwa murid-muridnya telah terbius oleh tipu-dayanya, dia memerintah mereka kembali ke "surga dunia". Kemudian, murid yang ditanam hinggga leher itu, benar-benar dipenggal. Untuk menyempurnakan tipu muslihatnya, Hasan bin Sabah memajang kepala itu di tiang ritual hingga selalu bisa disaksikan seluruh penduduk lembah."surga dunia". Murid-muridpun terbius surga palsu
Arkun Daraul dalam karyanya A History of Secret Societies, membagi kelompok rahasia pengikut Assassins menjadi tiga lapis: pertama, para misionaris (Dayes), kedua para sahabat (Rafiq), ketiga adalah murid-murid yang teruji kesetiaannya, pecintanya (Muhibbin). Golongan terakhir adalah para eksekutor terlatih. Para muhibbin mencirikan diri dengan topi putih dan sepatu boot merah. Ketiga lapis kelompok Assassins, selain mahir menghunjam belati di dada korbannya, mereka juga menguasai bermacam bahasa. Ada kalanya mereka berdandan dan berperilaku seolah pendeta. Mereka juga berbaur dengan masyarakat dengan menjadi pedagang dan serdadu. Intinya, mereka siap menyamar apa saja sebagai kedok demi menjalankan misi dan meraih tujuan.
Kata sandi anggota Assassins adalah "dari surga". Setiap ada "surat perintah jalan" untuk misi, eksekutor Assassins akan mendapat pertanyaan, "Dari mana asalmu?" Sang eksekutor pun menjawab, "Dari surga." Setelah dipastikan, instruksi dimandatkan, "Bunuhlah fulan/fulanah. Setelah berhasil, kau akan kembali menghuni surga. Jemputlah kematian! Karena para malaikat tak sabar mengangkatmu ke surga."
Pengaruh Assassins menyebar ke seantero jagad hingga pertengahan abad 13. Setelah Basan bin Sabah terbunuh di tangan anaknya sendiri, Muhammad, kelompok Assassins mengalami kemunduran. Kemudian Muhammad juga dibunuh anaknya sendiri. Tahun 1256, markas besar Assassins, Benteng Alamut, jatuh ke tangan Penjajah Mongol yang menandai akhir riwayat Assassins.
Pada awal abad 16, pemerintahan Ottoman yang berkuasa, menghancurkan pertahanan terakhir Assassins di Syria. Tamatlah riwayat kekuatan militer Assassins yang tak terkalahkan pada masanya. Perubahan besar ini menjadikan dinasti pemimpin "Nizariyah Ismailiyah memodernisasi organisasinya. Agha Khan adalah tokoh utamanya. Kemudian mereka menghilangkan citra Assassins atau 'pembunuh'. Organisasi yang berubah total ini mensyaratkan toleransi kepada sesama umat manusia sebagai lanskap kegiatannya dan melaksanakan perintah al-Quran.
Sejarah Modern Assassin
Ketika dunia pindah ke modern, membunuh orang penting mulai menjadi lebih dari alat dalam perebutan kekuasaan antara penguasa diri sendiri dan juga digunakan untuk simbolisme politik, seperti dalam pembuatan propaganda . Di Rusia saja, empat kaisar terbunuh dalam waktu kurang dari 200 tahun: Ivan VI , Peter III , Paulus I , dan Alexander II .
Dalam dunia modern para assassin biasanya tidak langsung membunuh target melainkan memberikan peringatan pada target sehingga sang target akan mengakui kalah atau menyerah dan mengikuti perintah assassin. Para target assassin juga biasanya adalah para penjabat negara atau orang" dari golongan atas. Di Amerika Serikat, empat presiden, Abraham Lincoln , James Garfield , William McKinley , dan John F. Kennedy , tewas di tangan pembunuh (assassin modern).
Metode Assassin Kuno
Metode pada zaman kuno dilakukan dengan cara yang cukup sederhana namun cukup berhasil yaitu dengan cara menusuk , mencekik atau bludgeoning . Teknik utama assasin adalah dengan menggunakan metode infiltrasi , dengan pembunuhan yang sebenarnya dengan cara menusuk, mencekik atau pencekikan . Racun juga mulai dipakai dalam berbagai bentuk.
Kematian karena jamur topi dan tanaman serupa menjadi pilihan tradisional Assassin terutama jika mereka tidak bisa membunuh secara langsung maka mereka menggunakan racun, gejala keracunan tidak akan nampak pada saat assassin memberikan racun kepada korban dan setelah beberapa saat racun mulai mengeluarkan reaksinya dan membunuh target secara perlahan.
Metode Assassin Modern
Dengan munculnya persenjataan senjata api , posisi target lebih berbahaya. bahkan Bodyguards tidak lagi cukup untuk menahan Assassin, Selain itu, jarak jangkauan target lebih besar dan lebih mudah di bunuh secara dramatis meningkatkan peluang hidup si Assassin. Kepala pertama pemerintahan yang dibunuh dengan senjata api adalah Bupati Skotlandia yang bernama Moray pada tahun 1570, dan William Diam , Pangeran Orange dari Belanda tahun 1584. Gunpowder dan bahan peledak lainnya juga memungkinkan penggunaan bom.
Bahan peledak, khususnya bom mobil , menjadi jauh lebih umum dalam sejarah modern, dengan granat dan remote-pemicu ranjau darat juga digunakan, terutama di Timur Tengah dan Balkan. Dengan senjata berat, granat roket (RPG) telah menjadi alat yang berguna mengingat popularitas mobil lapis baja, sementara pasukan Israel telah merintis penggunaan pesawat-rudal serta penggunaan inovatif perangkat peledak.
Sebuah sniper dengan presisi senapan sering digunakan dalam pembunuhan fiktif. Namun, kesulitan tertentu menghadiri menembak jarak jauh, termasuk mencari posisi penembakan tersembunyi dengan berhadapan jelas, dan senjata ini tentu sangat mendukung peranan si assassin karena dia dapat membunuh sang target dari jarak yang cukup jauh. hingga memudahkannya untuk bersembunyi atau melarikan diri.
Pistol adalah senjata lebih mudah digunakan , dan konsekwensinya jauh lebih umum digunakan daripada senapan. Dari 74 insiden utama dievaluasi dalam sebuah studi besar tentang metode pembunuhan pada paruh kedua abad ke-20, 51% yang dilakukan oleh pistol, 30% dengan sniper atau senapan, 15% dengan pisau, dan 8% bahan peledak.
Dalam metode pembunuhan yang lain, keracunan dapat lebih mudah di lakukan oleh sang assassin karena assassin adalah seorang yang bisa menyamar menjadi siapa saja dan membuka kemungkinan untuk bisa memberikaan racun pada korban dengan cara mencampurkan racun dengan makanan dan minuman atau dilakukan dengan menggunakan Sebuah pelet kecil yang mengandung racun dan disuntikkan ke korban.
DOKUMEN Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) terkait konstelasi politik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang dibocorkan oleh situs Wikileaks, Jumat (26/8) menunjukkan campur tangan pemerintah AS dalam beberapa peristiwa politik di Indonesia.
Secara total setidaknya ada 1.860 kabel diplomatik Kedubes AS di Indonesia yang bocor di situs yang populer mempublikasikan kebijakan rahasia dan dokumen resmi yang tidak boleh diungkap kepada publik itu.
Dokumen itu adalah kabel diplomatik tentang Indonesia yang dikeluarkan oleh Kedubes AS di Jakarta, Singapura, Ottawa, Kanada, dan Dili, Timor Leste.
Dokumen itu antara lain menyoroti kebijakan di Indonesia dalam menangani masalah flu burung, pemberantasan terorisme, pernyataan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri terkait sikap Indonesia pada perang di Irak, penyusunan undang-undang anti-pornografi, dan beberapa kasus skandal selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Salah satu dokumen yang bocor menunjukkan AS ternyata mendukung calon Partai Demokrat Agusrin Najamuddin dalam Pemilukada Gubernur Provinsi Bengkulu.
Kabel diplomatik yang dikeluarkan oleh Kedubes AS di Jakarta pada 30 Januari 2006, mengatakan AS menganggap Najamuddin sebagai kandidat penuh energi dan berdedikasi.
Gubernur Agusrin Najamuddin, yang juga terdakwa kasus dugaan korupsi dana bagi hasil Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 24 Mei.(pelitaonline)
DINAS Pusat Intelijen Amerika Serikat (AS) CIA telah menyensor banyak bagian dari sebuah buku tentang serangan 9/11 karya seorang mantan agen FBI.
CIA tidak akan mengizinkan publikasi seluruh bagian memoar Ali H Soufan, mantan agen Biro Penyelidik Federal FBI yang bertugas bertahun-tahun di pusat pertempuran melawan Al-Qaeda, demikian New York Times melaporkan, Kamis (25/8).
Dalam buku itu, Soufan berpendapat bahwa CIA melewatkan kesempatan untuk menggagalkan insiden 9/11 dengan menyembunyikan informasi dari FBI. Informasi itu tentang dua pembajak 9/11 yang tinggal di San Diego.
Soufan juga memberi rincian dan cerita dari tangan pertama tentang langkah agen mata-mata AS untuk melakukan penyiksaan brutal terhadap para tahanan yang diinterogasi. Dia mengatakan metode kasar itu tidak perlu dan kontraproduktif.
Soufan, agen kontraterorisme yang memainkan peran sentral dalam sebagian besar investigasi terorisme antara 1997 hingga 2005, telah mengatakan kepada rekannya, bahwa dia yakin sensor atas bukunya tidak bertujuan untuk melindungi keamanan nasional. Namun, sensor itu untuk mencegah dia menceritakan seluruh episode yang akan berakibat buruk terhadap CIA.
Dalam surat yang dikirim pada 19 Agustus kepada penasehat umum FBI, Valerie E Caproni, pengacara Soufan, David N Kelley, menulis, "Sumber yang dapat dipercaya mengatakan kepada Tuan Soufan, CIA telah membuat keputusan bahwa bukunya seharusnya tidak terbit karena akan membuat malu lembaga."
Soufan menyebut sensor CIA sebagai tindakan "konyol”. Dia bertekad akan mengembalikan bagian yang disensor itu pada edisi kedua.
Dia mengatakan, para pejabat kontraterorisme AS memiliki kewajiban untuk jujur dan mengakui, "kami telah melakukan kesalahan dan mengecewakan rakyat Amerika."
Buku berjudul “The Black Banners: The Inside Story of 9/11 and War Against Al-Qaeda” ditulis dengan bantuan Daniel Freedman, rekan Soufan di sebuah perusahaan keamanan New York, dan dijadwalkan akan mulai dijual pada 12 September.
Pegawai pemerintah AS yang memiliki izin keamanan harus menyerahkan karya tulis mereka untuk diperiksa dalam kaitan dengan informasi rahasia sebelum diterbitkan. Namun, karena keputusan tentang apa yang harus dihapus bisa sangat subjektif, maka pemeriksaan itu pun sering menjadi kontroversi.
Beberapa mantan mata-mata AS pernah mengadu ke pengadilan untuk melawan sensor atas buku mereka.
Kementerian Pertahanan AS bahkan pernah menghabiskan 50.000 dolar AS tahun lalu untuk membeli dan menghancurkan seluruh buku karya pejabat intelijen. Alasannya, buku itu memuat banyak rahasia negara.(pelitaonline)
Entah apa yang terjadi, namun hingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.
Sebuah buku harian yang belum pernah diterbitkan memuat misi rahasia 100 tahun lalu yang dilakukan Letnan Kolonel TE Lawrence atau yang juga dikenal dengan 'Lawrence of Arabia', terkuak.
Adalah pensiunan dosen, James Hynes (80) yang menuliskannya dalan buku berjudul 'Lawrence of Arabia's Secret Air Force'.
Informasi dalam buku itu didapatkan setelah ia melakukan kontak dengan sepupunya yang menceritakan jurnal berisi pengalaman ayahnya mengikuti pahlawan militer Inggris. Letkol TE Lawrence selama Perang Dunia I.
Catatan harian itu berisi kisah spionase dan operasi militer pemboman yang diberi nama 'X Flights' yang dipimpin oleh Lawrence di bekas Kekaisaran Ottoman.
Lawrence memimpin 'X Flights' pada tahun 1918 melawan Turki -- dibantu oleh tim yang ia tunjuk sendiri, termasuk Earl of Winterton keena, yang saat itu duduk sebagai anggota parlemen.
Misi rahasia ini membantu Lawrence menaklukan Damaskus pada 1918 -- di mana ia menjadi instrumen penting dalam pembentukan pemerintahan Arab.
Misi ini sangat rahasia bahkan Royal Air Force (RAF), angkatan udara Britania Raya tidak mengetahuinya. Misi ini tetap jadi rahasia, termasuk dalam penggambaran Film 'Lawrence of Arabia' yang dibintangi Peter O'Toole pada tahun 1962.
Detail penerbangan itu kini diungkap oleh salah satu anak buah Lawrence, George Hynes -- paman James Hynes.
Diceritakan dia dalam catatan hariannya, hanya orang-orang yang terlibat dalam 'Operasi Gurun' yang tahu keberadaan 'X Flight'.
'X Flight adalah grup kecil yang terdiri dari beberapa pesawat terbang yang digunakan Lawrence dan rekan-rekannya untuk menjalankan misi setelah mengambil alih kekuasaan atas Aqaba pada 1917 selama perang Arab melawan Turki.
Misi tersebut termasuk mengebom rel kereta api Turki, memutus jaringan suplai dan kabel telegram.
George Hynes bertanggung jawab untuk menjaga pesawat layak terbang. Para kru bekerja dalam kondisi gurun yang sulit, tinggal dan bekerja di suhu yang bervariasi antara titik beku dan 100 derajat.
Sang penulis, James Hynes menambahkan, tugas mereka sehari-hari pada dasarnya mengenali foto bom, senapan mesin, dan mengidentifikasi pangkalan rahasia untuk dilaporkan pada Lawrence.
"Menerbangkan pesawat hanya bisa dilakukan pada pukul 04.00 - 06.00 saat udara dingin-dinginnya. Hanya saat itu mereka bisa menyerang, karena setelah itu adalah waktu sibuk untuk orang Turki. Selain itu menerbangkan pesawat dalam suhu 100 derajad sangat berbahaya.
"Pesawat -pesawat 'X Flights' akan mengambil gambar, mengebom, menggunakan senapan mesin, mereka akan menyerang.
"Sangat sering Lawrence akan tetap berada di lapangan udara rahasia dengan para penerbang. Memastikan ia mendapat informasi yang lancar.
George tetap melakukan kontak dengan Lawrence sebelum perwira itu tewas dalam kecelakaan motor pada 1935 dalam usia 46 tahun. Sementara George tewas pada 1973 dalam usia 78.
========
Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keIslaman. Pemimpin dalam menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah SWT ini dalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri (serangan pemikiran dan kebudayaan) maupun serangan Qital.
Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattani, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, Muslim Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi yang terjadi dalam realitas sesungguhnya, mungkin masih jadi pertanyaan banyak pihak. Karena harapan itu masih jauh dari kenyataan.
Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalam karyanya yang sangat berani berjudul "Dinasti Bush Dinasti Saud" (2004) memaparkan kelakuan beberapa oknum di dalam tubuh kerajaan negeri itu, bahkan di antaranya termasuk para pangeran dari keluarga kerajaan.
"Pangeran Bandar yang dikenal sebagai ‘Saudi Gatsby' dengan ciri khas janggut dan jas rapih, adalah anggoa kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari Arab Saudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas aturan seorang Muslim. Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, " tulis Unger.
Bandar, tambah Unger, merupakan contoh perilaku dan gaya hidup sejumlah syaikh yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi. "Dalam hal gaya hidup Baratnya, ia bisa mengalahkan orang Barat paling fundamentalis sekali pun. "
Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.
Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terakdang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat-jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat-Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya.
Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya-termasuk Makkah dan Madinah-kepada tentara Zionis Amerika.
Bahkan dikabarkan bahwa Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 1970-an untuk melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan mengadakan logistik tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat Military Company (PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan perusahaan penyedia tentara bayaran.
Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.
Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.
Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia' dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, "Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!").
Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.
Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.
Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya "Lawrence of Arabia was a Zionist" seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.
Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.
Entah apa yang terjadi, namun hingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.
Selain film ‘Lawrence of Arabia', ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:
Wa'du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali-mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)
Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)
Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat "pemberontakan" terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam, wallahu a'lam. (Rz) sumber:vivanews/eramuslim
Een Nuraeni, anak Ruyati, TKI yang dihukum pancung pemerintah Arab Saudi ikut mengutuk keras pemberian gelar Doktor Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan Teknologi kepada Raja Abdullah dari Arab Saudi oleh Universitas Indonesia. Menurutnya, pemberian gelar tersebut telah menyakiti perasaan seluruh bangsa Indonesia. "Saya enggak ikhlas. Gelar itu sama saja mengakui pemancungan. Biadab," ujarnya seraya menangis ketika dijumpai wartawan di gedung DPR, Jumat, 26 Agustus 2011.
Ahad, 21 Agustus 2011 lalu, Rektor UI Gumilar Rosliwa Somantri menyerahkan secara langsung gelar tersebut kepada Raja Abdullah di Istana Al Safa, Saudi. Raja Abdullah dinilai pantas menerima gelar Doctor Honoris Causa itu atas perhatiannya pada perkembangan kemanusiaan dan iptek serta menjadikan Saudi sebagai pusat peradaban Islam moderat.
Penganugerahan gelar tersebut dilakukan langsung dalam satu upacara yang diadakan di Istana Al-Safa, Arab Saudi. Acara tersebut dihadiri para ulama internasional, beberapa menteri Arab Saudi, para pimpinan lembaga tinggi Arab Saudi, dan para gubernur.
Pemberian gelar ini sendiri dikecam berbagai pihak. Alasannya, pemberian gelar itu tak sejalan dengan kenyataan masih banyaknya tenaga kerja Indonesia yang dipekerjakan secara tidak manusiawi bahkan dihukum pancung di sana.
Een yang didampingi sejumlah aktivis tenaga kerja dan juga civitas akademika menangis karena mengenang ibunya yang dipancung beberapa bulan lalu. Sontak, hal ini mengundang emosi sejumlah pembicara lainnya. Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia Thamrin Amal Tamagola juga mengutuk keras tindakan rektor tersebut. Menurutnya, pemberian gelar ini dilakukan tanpa sepengetahuan civitas akademika UI.
Selain itu, ia mensinyalir ada penyalahgunaan fasilitas dalam pemberian gelar yang dilakukan di Arab Saudi ini. "Menurut kabar, ada 23 orang datang ke sana, 4 orang dibiayai Arab, dan sisanya dibiayai UI sendiri," ujarnya. "Kalau mereka ke sana sambil melaksanakan umrah, itu sama saja korupsi karena menggunakan fasilitas dari UI untuk kepentingan pribadinya," ujarnya. Ia pun meminta Komisi Ketenagakerjaan DPR untuk memproses masalah ini.(tempo)
Para responden dalam polling yang digelar PressTV menyatakan bahwa upaya pemerintah Palestina untuk menggalang dukungan terhadap deklarasi kemerdekaan dan keanggotaan Palestina di PBB akan diveto oleh Amerika Serikat.
Berdasarkan survey yang dilakukan terhadap 10,787 orang itu, 47 responden menyatakan bahwa Palestina akn mendapat dukungan mayoritas pada voting, namun hasil voting tersebut akan diveto oleh Amerika Serikat.
Sebanyak 24 persen responden berpendapat bahwa Amerika Serikat dan Israel akan mencegah pengajuan permohonan keanggotaan Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB pada September mendatang.
Sekitar 13 persen responden menyatakan bahwa permohonan Otorita Palestina akan gagal menggalang dukungan menyusul tekanan hebat dari Washington dan Tel Aviv.
Hanya 16 persen responden yang berpendapat bahwa Palestina akan menjadi anggota PBB dan menjadi negara merdeka.
Sebelumnya, Pemimpin Otorita Ramallah, Mahmoud Abbas menyatakan akan mengajukan keanggotaan dalam PBB pada 20 September mendatang yang sekaligus mendeklarasikan kemerdekaan Palestina.
Rencana tersebut telah memantik kegeraman Amerika Serikat, Israel dan sejumlah negara aliansi Barat. Washington sendiri telah mengancam akan menggunakan hak istimewanya, veto, terhadap rencana Abbas.
Hingga kini lebih dari 100 negara secara resmi mengakui kedaulatan Palestina berdasarkan perbatasan pada tahun 1967, yaitu perbatasan sebelum Israel merampas Baitul Maqdis timur (Jerusalem), Tepi Barat Sungai Jordan, dan Jalur Gaza.