Dalam beberapa hari terakhir, kebangkitan rakyat Libya dan Bahrain menyita perhatian publik internasional. Gelombang protes di Dunia Arab menentang rezim despostik telah berhasil menumbangkan pemimpin diktator Mesir, Hosni Mubarak dan Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali. Adapun media-media Barat menyikapi berbeda kebangkitan rakyat Libya dan Bahrain. Barat menilai revolusi rakyat Libya dan Bahrain berbeda.
BBC dalam analisanya menulis, sebelumnya berbagai prediksi dan analisa menyatakan bahwa gelombang protes di negara-negara Teluk Persia dan Afrika Utara yang terinspirasi dari kebangkitan rakyat Mesir dan Tunisia akan memiliki kesamaan. Artinya setelah terjadinya revolusi rakyat, para pemimpin Arab yang ketakutan akan mengerahkan militernya menumpas aksi protes massa. Namun demikian ternyata Libya dan Bahrain adalah dua model yang berbeda dalam menghadapi aksi protes rakyat.
Muammar Gaddafi memerintah Libya selama bertahun-tahun dan tidak penah bersedia menerima kritik sekecil apapun. Dan di Bahrain rakyat menuntut pembubaran pemerintah. Sementara apa yang terjadi di Libya adalah tuntutan pengunduran diri Gaddafi. Dalam hal ini BBC menulis, di Bahrain, militer mengundurkan diri sehingga rakyat lebih optimis akan kekuatan mereka dan kesempatan bagi kubu oposisi berdialog dengan pemerintah kian terbuka.
Reaksi para pemimpin Bahrain bukan hanya disebabkan karena Manama adalah negara paling liberal di Timur Tengah, namun faktor lain adalah tekanan asing terhadap negara ini. Kini terkuak pula peran Presiden AS, Barack Obama dan Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague. Kedua petinggi Barat ini menghubungi Emir Bahrain dan memintanya memilih jalan damai dalam menyelesaikan krisis yang ada.
Namun di Libya, kondisinya sepenuhnya berbeda dengan Bahrain. Pemerintah Tripoli memutuskan semua hubungan dengan luar negeri sehingga informasi mengenai perkembangan terbaru dari negara ini terganggu. Hal ini menyebabkan pasukan pro Gaddafi lebih leluasa dalam menumpas gerakan rakyat. Di kota Benghazi misalnya, penumpasan gerakan protes rakyat oleh pasukan Gaddafi telah mencapai titik sadisme. Penggunaan senjata-senjata berat dapat dibuktikan dari jenazah para korban tewas.
Di lain pihak, Hague menilai perkembangan terbaru di Libya tidak manusiawi dan tidak dapat ditolerir. Ia meminta Barat dan negara-negara Arab untuk mengecam kebijakan Gaddafi. Namun sulit dibayangkan jika Gaddafi mau menerima imbauan pihak luar. Diktator yang telah berkuasa selama empat dekade di Libya itu, telah sedemikian menguasai seluruh sektor di negara itu sehingga tidak mungkin ia bersedia menerima kritikan sekecil apapun.
Masalah berikutnya imbauan dari Dunia Arab juga tidak dapat diharapkan karena setelah Ben Ali dan Mubarak serta dalam waktu dekat Gaddafi akan lengser, maka para penguasa Arab akan terancam nasib yang sama. (IRIB/Mehr/MF)